Puisi yang Terbit di Koran Radar Bekasi

 

koran bekasi

TITIK HUJAN TERKEPUNG

hujan melubangi awan
pesat dengan cepat
mencium bumi
kemudian tergenang
tenang dengan senang

oh…
titik hujan terkepung
di kubang-kubang jalan
membiak tak beranak
nestapa
nyinyir
menetap dan tak mau pergi
RINDU HUJAN SETELAH KERING

retak
pecah
kemeretak
bunyi-bunyi tanah setelah lepas

hujan
membasah
meluap
membius rindu-rindu bumi

hilang
musim
datang
kusam

sukur atau disyukuri

07 Februari 2014

terbit di koran lokal bekasi: 16 Februari 2014

dendang hujan

angin saja bisa membuat gemuruh di langit yang mendung
kemudian hujan turun menyambut bumi
gerimis membadai? ah tidak! ini hanya sebuah percikan air yang membuatku terasa sakit.

ketika katak-katak cinta bernyanyi
berdendang irama-irama perayu bagi para betina
ada hujan
ada gemuruh
ada katak
ada rindu

tak pernah terlintas ada kilat begitu indah
laksana kau sayat hatiku, kemudian kau temukan dirimu
hiperbola yang dibuat oleh rasa, tapi harum tetap seperti tanah
basah dan menggenang.

tak ubahnya senandung-senandung duka
tak ada bendera kuning di sana
aku
tetap sama, seperti air yang tahu tempat muara.

Tangerang, 14 April 2013

BERTEMU DENGANMU

 

Photo0319

seperti sebuah paduan yang sama
tawamu memecah sunyi
saat kita terjebak di lorong pengap
kau tetap menertawakannya
sedang aku mulai lelap di sampingmu

sayangku,
bagai seribu pintu yang kau warnai
yang melatarbelakangimu sebagai cahaya
ketika kau ucap; kita belum mulai
aku mulai melangkah, mempercepat langkah

sedang tapak yang lalu masih jelas menceritakanmu
gugupmu mendulang mimpi
alur yang ku sangsikan menjadi memoar yang hilang
dan untuk itu, kenapa kau berhak untuk dirindukan
meskipun pertemuan bukan sebuat titik temu

Tangerang, 11 April 2013

bukan perahu kertas

PERAHU KERTAS
Oleh: Dewi Lestari

Perahu kertasku kan melaju
membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila,
tapi ini adanya

Perahu kertas mengingatkanku
betapa ajaibnya hidup ini
Mencari-cari tambatan hati,
kau sahabatku sendiri
Hidupkan lagi mimpi-mimpi
cinta-cinta… cita-cita …
cinta-cinta…
yang lama ku pendam sendiri
berdua ku bisa percaya

Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu
Tiada lagi yang mampu berdiri
halangi rasaku, cintaku padamu

Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

Oh bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu…

:kalau Dewi Lestari bisa menulis syair tentang PERAHU KERTAS, saya mau coba buat syair tentang BUKAN PERAHU KERTAS.

BUKAN PERAHU KERTAS

tak usah ku cari dirimu lewat sinyal Neptunus di lautan luas
tak usah radarku memancar hanya untuk menemukanmu di belahan dunia

tak lagi ku buat surat cinta dengan kata-kata gila
tak lagi aku mencari tambatan hati

perahuku bukan perahu kertas, yang tak ada nahkoda dan hanya mimpi-mimpi bersamamu.

kau ada di hadapaku dan aku percaya…