untukmu maya

dalam dekap malam yang terus menghembuskan angin dingin ketamakkan, adakah kau wahai pujaan menantiku di rumah-rumah singgah, tempat selimut-selimut tebal tertata rapih?

seperti apa wajahmu kelak ketika kau pasrahkan detak jantungmu untukku. hingga yang ku rasa sama persis seperti nafasmu yang hangat dan beraturan.

tanpa perlu merasamu dengan kulit yang ku tutup sedemikian rupa, kita tahu bahwa ragamu bertaut dengan ragaku.

tak usah mengelak karena keterpaksaan waktu yang hanya menyediakan 24 jam dalam sehari. padahal aku membutuhkanmu lebih dari tarikan nafasmu selama hidup.

tak usah juga kita pikirkan ranting-ranting patah di ujung pohon tua yang mengisyaratkan ada angin yang sangat kencang untuk merampungkan daun-daun kering tak karuan.

yang kita yakin, kita sama seperti dulu mentabirkan yang luput mencerahkan yang kusam.

untukmu Maya….

aku tak lelah tersenyum menanti.

Tangerang, 05 Maret 2012

Iklan

Langit Runtuh

LANGIT RUNTUH

langit runtuh
awan berhambura
hujan menyeruak
petir meramaikan

hidangan pohon-pohon
makanan tanah-tanah
musibah bagi si musibah
karunia bagi si karunia

langit runtuh
awan berhamburan
hujan menyeruak
petir meramaikan

genting memecah
tandus menghilang
angin bergumul
nyamuk menyeringai

langit runtuh
awan berhamburan
hujan menyeruak
petir meramaikan

bus bertabrakan
mayat gentayangan
orang menghujat
obat tak karuan

langit runtuh
awan berhamburan
hujan menyeruak
petir meramaikan

ormas gerah
politik tergelitik
agama siapa yang tahu
hardik menghardik

langit runtuh
awan berhamburan
hujan menyeruak
petir meramaikan

Tangerang, 16 Februari 2012