Down Syndrom

DOWN SYNDROME

I. PENDAHULUAN

Bagaimana Down Syndrome dapat terjadi, terlebih dahulu kita perlu memahami sedikit mengenai kromosom.

Kromosom merupakan struktur makromolekul besar yang memuat DNA yang membawa informasi genetik dalam sel. DNA terbalut dalam satu atau lebih kromosom.

Down Syndrome merupakan kelainan kromosom yang dapat dikenal dengan melihat manifestasi klinis yang cukup khas. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental anak ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr. John Longdon Down. Karena ciri-ciri yang tampak aneh seperti tinggi badan yang relative pendek, kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongolia maka sering juga dikenal dengan Mongoloid. Pada tahun 1970an para ahli dari Amerika dan Eropa merevisi nama dari kelainan yang terjadi pada anak tersebut dengan merujuk penemu pertama kali syndrome ini dengan istilah Down Syndrome dan hingga kini penyakit ini dikenal dengan istilah yang sama.(1)

 

II. DEFINISI

Down Syndrome yaitu gangguan  kromosom yang ditandai dengan kranium kecil , bagian anteposterior yang mendatar, jembatan hidung yang datar, lipatan epikantus, ruas-ruas jari yang pendek, jarak yang lebar antara jari tangan dan kaki pertama dan kedua, dan reterdasi mental sedang sampai berat, dengan penyakit Alzheimer yang berkembang pada dekade keempat atau kelima.

Kelainan kromosom adalah trisomi kromosom 21 yang berhubungan dengan usia ibu.  disebut juga trisomy 21 dan nondisjunction.

Down Syndrome juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom.(1,2)

 

III. ETIOLOGI

Down Syndrome terjadi karena adanya kelebihan kromosom pada manusia atau sering disebut cacat kromosomal. Pada umumnya manusia memiliki 23 pasang kromosom atau 46 kromosom. Namun pada bayi down syndrome memiliki kromosom yang lebih banyak dari bayi normal. salah satu pasang terdiri dari 3 kromosom. Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan.

Kelebihan kromosom inilah yang menyebabkan terjadinya kelainan dan masalah terutama pada perkembangan tubuh. Down Syndrome seringkali berkaitan dengan ibu yang berusia tua dimana seringkali terjadi kemungkinan non-disjungtion. Walaupun demikian, penelitian mutakhir memperlihatkan bahwa ayah kemungkinan dapat menjadi karier dari kromosom ekstra.(3)

 

IV. MANIFESTASI KLINIK

Manifestasi klinis yang paling jelas pada anak yang menderita Down Syndrome adalah adanya keterbelakangan perkembangan fisik dan mental pada anak (Olds, et all. London, 1996). Penderita sangat sangat mudah dikenali dengan adanya penampilan fisik yang menonjol berupa bentuk kepala yang relatif kecil dari normal (microchephaly) dengan bagian anteroposterior kepala mendatar. Pada bagian wajah biasanya tampak sela hidung yang datar, mulut yang mengecil dan lidah yang menonjol keluar (macroglossia). Seringkali mata menjadi sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds). Tanda klinis pada bagian tubuh lainnya berupa tangan yang pendek termasuk ruas jari-jarinya serta jarak antara jari pertama dan kedua baik pada tangan maupun kaki melebar. Sementara itu lapisan kulit biasanya tampak keriput (dermatoglyphics).Kelainan kromosom ini juga bisa menyebakan gangguan atau bahkan kerusakan pada sistim organ yang lain. Pada bayi baru lahir kelainan dapat berupa Congenital Heart Disease. kelainan ini yang biasanya berakibat fatal di mana bayi dapat meninggal dengan cepat.(4)

Penderita  Down Syndrome cenderung periang, senang, bersahabat dan gemar musik, tetapi seperti anak normal mereka dapat memperlihatkan suatu rentang atribut kepribadian. Pada masa remaja,perkembangan seksual biasanya terhambat atau tidak lengkap.

 

V. PENCEGAHAN

Ada beberapa cara melakukan pencegahan terjadinya Down Syndrome. Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis(penetrasi bedah transabdominal atau transervikal dari uterus untuk aspirasi cairan amnion) bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan Down Syndrome atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki resiko melahirkan anak dengan Down Syndrome lebih tinggi. Down Syndrome tidak dapat dicegah, karena Down Syndrome merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah kromosom.

Pencegahan Down Syndrome juga dapat dilakukan dengan cara gaya/ pola hidup sehat. Meskipun dapat terjadi pada siapapun,  kebiasaan bergaya hidup sehat kemungkinan dapat membantu mencegah terjadinya Down Syndrome pada janin.

Gaya hidup sehat yang dimaksud antara lain meliputi:

  1. Konsumsi makanan bergizi
  2. Makanlah sayuran dan buah-buahan segar
  3. Hindari kebiasaan merokok
  4. Hindari kebiasaan minum-minuman beralkohol
  5. Olah raga teratur. (1,5)

VI. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Untuk mendeteksi adanya kelainan pada kromosom, ada beberapa pemeriksaan yang dapat membantu menegakkan diagnosa ini, antara lain:

  1. pemeriksaan fisik penderita,
  2. pemeriksaan kromosom
  3. ultrasonograpgy
  4. 4. Electro Cardio Gram (ECG)
  5. echocardiogram
  6. neuroradiologi dapat menemukan adanya kelainan dalam struktur kranium, misalnya klasifikasi intrakranial atu peningkatan intracranial.
  7. 7. Ekoensefalografi dapat memperlihatkan tumor dan hematoma.
  8. Biopsi otak hanya berguna pada sejumlah kecil anak dengan retardasi mental.
  9. 9. Penelitian biokimiawi menentukan tingkat dari berbagai bahan metabolik yang diketahui mempengaruhi jaringan otak jika ditemukan dalam jumlah besar atau kecil.(1,6)

Diagnosis dalam kandungan bisa dilakukan, diagnosis pasti dengan analisis kromosom dengan cara mengambil sedikit bagian janin pada plasenta, pada kehamilan 10-12 minggu. atau amniosentesis (pengambilan air ketuban) pada kehamilan 14-16 minggu.(6)

 

VII. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan Sampai saat ini belum ditemukan metode pengobatan yang paling efektif untuk mengatasi kelainan ini.Pada tahap perkembangannya penderita Down syndrom juga dapat mengalami kemunduran dari sistim penglihatan, pendengaran maupun kemampuan fisiknya mengingat tonus otot-otot yang lemah. Dengan demikian penderita harus mendapatkan support maupun informasi yang cukup serta kemudahan dalam menggunakan sarana atau fasilitas yang sesuai berkaitan dengan kemunduran perkembangan baik fisik maupun mentalnya. Pembedahan biasanya dilakukan pada penderita untuk mengoreksi adanya defek pada jantung, mengingat sebagian besar penderita lebih cepat meninggal dunia akibat adanya kelainan pada jantung tersebut. Dengan adanya Leukemia akut menyebabkan penderita semakin rentan terkena infeksi, sehingga penderita ini memerlukan monitoring serta pemberian terapi pencegah infeksi yang adekuat.(3,6)

 

VIII. REFERENSI :

1. Anonim. http://id.wikipedia.org/wiki/Sindrom_Down, 6 September 2007

2. Kamus Kedokteran DORLAND. Edisi 29. Jakarta: EGC.  2131

3. M Nurs, Widodo. “Down Syndrome”, http://www.down syndrome.pdf.com.

3. Chang, Karen T and Tai Min, Kyung, “Drosophila melanogaster homolog of Down Syndrome critical region 1 is critical for mitochondrial function”,http://search.ebscohost.com, 16 oktober 2005.

4. Kamus Kedokteran DORLAND. Edisi 29. Jakarta: EGC.  2131

5. Sacharin, Rosa M. 1999. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.  Hlm

310 – 312

6. Wong, Donna L.2004. pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.

Hlm 451

 

 

Cara memilih pasangan

Bagaimana memilih pasangan hidup?

Ketika pernikahan terbentuk dibenak kita dan ketika pikiran kita ingin menyempurnakan separuh agama, maka kita harus berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam memilih wanita atau pria yang akan menjadi pasangan hidup, khususnya untuk para kaum pria dalam memilih calon istri harus benar-benar selektif karena wanita tempat melimpahkan segala rahasia, ibu rumah tangga, ibu anak-anak. Banyak kaum muda yang tergesa-gesa dalam menentukan pasanganya semata-mata karena terpesona akan kecantikannya, hingga akhirnya terjerumus kedalam penderitaan dan kesengsaraan karena banyak menghadapi berbagai masalah. Oleh karena itu Islam mengajarkan kaum pria untuk memilih pasangan hidupnya dengan baik dan memberikan dasar-dasar, prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah yang mendalam.

Prinsip-prinsip dalam memilih pasangan1.

1. Agama

Prinsip pertama yang diletakakn Islam dalam memilih pasangan hidup adalah wanita yang taat beragama. Karena agama melindungi perempuan dari berbagai pelanggaran dan hal-hal yang haram. Wanita yang taat beragama jauh dari segala hal yang dibenci Allah dan mencemarkan kehormatan suami. Sebaliknya, wanita rusak, menyimpang serta jauh dari petunjuk dan ajaran agama, maka tidak akan diragukan lagi ia akan mudah terjebak dalam jeratan syetan dan tidak bisa dipercaya dalam menjaga kemaluan atau memelihara kehormatan, bahkan bahaya akan semakin besar jika kerusakan itu dibarengi dengan kecantikan dan kekayaan. Oleh karna itu, Islam benar-benar menganjurkan untuk memilih pasangan hidup yang memiliki dasar agama yang kuat. Rasullah saw menjelaskan beberapa tipe dalam memilih perempuan. Beliau bersabda, yang artinya “ Perempuan dinikahi karena empat hal: karna kekayaannya, kecantikannya, keturunannya dan karna agamanya. Pilihlah yang memiliki agama yang kuat maka kamu akan beruntung.” (HR. Ahmad)

2. Akhlak

Artinya, wanita yang akan dijadikan sebagai istri harus berakhlak mulia. Unsur ini berkaitan dengan prinsip pertama yaitu agama, sebab wanita yang taat beragama pasti memiliki akhlak yang mulia

3. Wanita yang masih gadis

Islam menganjurkan untuk memilih wanita yang masih gadis karna memang watak manusia suka tehadap hal yang baru dan menghindari wanita yang sudah pernah disentuh laki-laki lain sebelumnya.

4. Wanita yang subur

Sebenarnya masalah keseburan merupakan sesuatu yang bisa diterka dan bukan sesutau yang mustahil, tetapi Allah memerintahkan kita untuk mencari tahu tentang masalah itu walaupun dalam bentuk yang sedikit. Para ahli mengatakan bahwa perempuan yang subur bisa diketahui melalui dua hal, yaitu: pertama, terbabasnya tubuh wanita dari berbagai penyakit yang menyebabkan tidak bisa hamil. Kedua, melihat kondisi ibu dan saudara-saudara perempuannya yang sudah menikah.

5. Kedekatan usia dan tingkat pendidikan

Diantara prinsip yang ditetapkan Islam dalam memilih pasangan hidup adalah kedekatan usia, tingkat pendidikan, dan keturunan. Inilah yang disebut dengan Takafu’ atau Sekufu dalam ilmu fiqih.

Syarat-syarat memilih pasangan

Islam sangat menekankan syarat-syarat memilih istri dan suami. Seperti yang telah kita ketahui Islam mempunyai syarat mendasar yaitu:

  1. Akhlak
  2. Agama

Dengan demikian nasib rumah tangga keluarga dan anak-anak tidak berakhir dingin dan tidak timbul berbagai macam kesulitan.

 

Kriteria Memilih Pasangan Hidup Menurut Islam

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk mengetahui tentang tujuan menikah dan berhati-hati dalam memilih pasangan hidup, karena hidup berumah tangga diniatkan untuk selama-lamanya sampai akhir hayat. Muslim atau Muslimah dalam memilih calon istri atau suami tidaklah mudah tetapi membutuhkan waktu, karena kriteria memilih harus sesuai dengan syariat Islam. Orang yang hendak menikah, hendaklah memilih pendamping hidupnya dengan cermat, hal ini dikarenakan apabila seorang Muslim atau Muslimah sudah menjatuhkan pilihan kepada pasangannya yang berarti akan menjadi bagian dalam hidupnya. Wanita yang akan menjadi istri atau ratu dalam rumah tangga dan menjadi ibu atau pendidik bagi anak-anaknya demikian pula pria menjadi suami atau pemimpin rumah tangganya dan bertanggung jawab dalam menghidupi (memberi nafkah) bagi anak istrinya.


A. Kriteria Memilih Calon Istri

Dalam memilih calon istri, Islam telah memberikan beberapa petunjuk di antaranya :

  1. Hendaknya calon istri memiliki dasar pendidikan agama dan berakhlak baik karena wanita yang mengerti agama akan mengetahui tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, yang artinya :

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda : “Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, lalu pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu bahagia.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Dalam hadits di atas dapat kita lihat, bagaimana beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menekankan pada sisi agamanya dalam memilih istri dibanding dengan harta, keturunan, bahkan kecantikan sekalipun.

Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya :

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang Mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu … .” (QS. Al Baqarah : 221)

Sehubungan dengan kriteria memilih calon istri berdasarkan akhlaknya, Allah berfirman, yang artinya :

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) … .” (QS. An Nur : 26)

Seorang wanita yang memiliki ilmu agama tentulah akan berusaha dengan ilmu tersebut agar menjadi wanita yang shalihah dan taat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wanita yang shalihah akan dipelihara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana firman-Nya, yang artinya :

“Maka wanita-wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara dirinya, oleh karena itu Allah memelihara mereka.” (QS. An Nisa’ : 34)

Sedang wanita shalihah bagi seorang laki-laki adalah sebaik-baik perhiasan dunia.

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)

2. Hendaklah calon istri itu penyayang dan banyak anak.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda, yang artinya :

Dari Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, yang artinya : ” … kawinilah perempuan penyayang dan banyak anak … .” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Al Waduud berarti yang penyayang atau dapat juga berarti penuh kecintaan, dengan dia mempunyai banyak sifat kebaikan, sehingga membuat laki-laki berkeinginan untuk menikahinya.

Sedang Al Mar’atul Waluud adalah perempuan yang banyak melahirkan anak. Dalam memilih wanita yang banyak melahirkan anak ada dua hal yang perlu diketahui :

a. Kesehatan fisik dan penyakit-penyakit yang menghalangi dari kehamilan. Untuk mengetahui hal itu dapat meminta bantuan kepada para spesialis. Oleh karena itu seorang wanita yang mempunyai kesehatan yang baik dan fisik yang kuat biasanya mampu melahirkan banyak anak, disamping dapat memikul beban rumah tangga juga dapat menunaikan kewajiban mendidik anak serta menjalankan tugas sebagai istri secara sempurna.

b. Melihat keadaan ibunya dan saudara-saudara perempuan yang telah menikah sekiranya mereka itu termasuk wanita-wanita yang banyak melahirkan anak maka biasanya wanita itu pun akan seperti itu.

3. Hendaknya memilih calon istri yang masih gadis terutama bagi pemuda yang belum pernah nikah.

Hal ini dimaksudkan untuk mencapai hikmah secara sempurna dan manfaat yang agung, di antara manfaat tersebut adalah memelihara keluarga dari hal-hal yang akan menyusahkan kehidupannya, menjerumuskan ke dalam berbagai perselisihan, dan menyebarkan polusi kesulitan dan permusuhan. Pada waktu yang sama akan mengeratkan tali cinta kasih suami istri. Sebab gadis itu akan memberikan sepenuh kehalusan dan kelembutannya kepada lelaki yang pertama kali melindungi, menemui, dan mengenalinya. Lain halnya dengan janda, kadangkala dari suami yang kedua ia tidak mendapatkan kelembutan hati yang sesungguhnya karena adanya perbedaan yang besar antara akhlak suami yang pertama dan suami yang kedua. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjelaskan sebagian hikmah menikahi seorang gadis :

Dari Jabir, dia berkata, saya telah menikah maka kemudian saya mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan bersabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Apakah kamu sudah menikah ?” Jabir berkata, ya sudah. Bersabda Rasulullah : “Perawan atau janda?” Maka saya menjawab, janda. Rasulullah bersabda : “Maka mengapa kamu tidak menikahi gadis perawan, kamu bisa bermain dengannya dan dia bisa bermain denganmu.”

  1. 4. Mengutamakan orang jauh (dari kekerabatan) dalam perkawinan.

Hal ini dimaksudkan untuk keselamatan fisik anak keturunan dari penyakit-penyakit yang menular atau cacat secara hereditas. Sehingga anak tidak tumbuh besar dalam keadaan lemah atau mewarisi cacat kedua orang tuanya dan penyakit-penyakit nenek moyangnya. Di samping itu juga untuk memperluas pertalian kekeluargaan dan mempererat ikatan-ikatan sosial.

B. Kriteria Memilih Calon Suami

1. Islam

Ini adalah kriteria yang sangat penting bagi seorang Muslimah dalam memilih calon suami sebab dengan Islamlah satu-satunya jalan yang menjadikan kita selamat dunia dan akhirat kelak. Sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya:

“ … dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita Mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang Mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al Baqarah : 221)

2. Berilmu dan Baik Akhlaknya.

Masa depan kehidupan suami-istri erat kaitannya dengan memilih suami, maka Islam memberi anjuran agar memilih akhlak yang baik, shalih, dan taat beragama.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, yang artinya :

“Apabila kamu sekalian didatangi oleh seseorang yang Dien dan akhlaknya kamu ridhai maka kawinkanlah ia. Jika kamu sekalian tidak melaksanakannya maka akan terjadi fitnah di muka bumi ini dan tersebarlah kerusakan.” (HR. At Tirmidzi)

Islam memiliki pertimbangan dan ukuran tersendiri dengan meletakkannya pada dasar takwa dan akhlak serta tidak menjadikan kemiskinan sebagai celaan dan tidak menjadikan kekayaan sebagai pujian. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya :

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (nikah) dan hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur : 32)

Laki-laki yang memilki keistimewaan adalah laki-laki yang mempunyai ketakwaan dan keshalihan akhlak. Dia mengetahui hukum-hukum Allah tentang bagaimana memperlakukan istri, berbuat baik kepadanya, dan menjaga kehormatan dirinya serta agamanya, sehingga dengan demikian ia akan dapat menjalankan kewajibannya secara sempurna di dalam membina keluarga dan menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai suami, mendidik anak-anak, menegakkan kemuliaan, dan menjamin kebutuhan-kebutuhan rumah tangga dengan tenaga dan nafkah.

Jika dia merasa ada kekurangan pada diri si istri yang dia tidak sukai, maka dia segera mengingat sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, yang artinya:

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Jangan membenci seorang Mukmin (laki-laki) pada Mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai.” (HR. Muslim)

Sehubungan dengan memilih calon suami untuk anak perempuan berdasarkan ketakwaannya, Al Hasan bin Ali rahimahullah pernah berkata pada seorang laki-laki :

“Kawinkanlah puterimu dengan laki-laki yang bertakwa sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika tidak menyukainya maka dia tidak akan mendzaliminya.”

Untuk dapat mengetahui agama dan akhlak calon suami, salah satunya mengamati kehidupan si calon suami sehari-hari dengan cara bertanya kepada orang-orang dekatnya, misalnya tetangga, sahabat, atau saudara dekatnya.

Demikianlah ajaran Islam dalam memilih calon pasangan hidup. Betapa sempurnanya Islam dalam menuntun umat disetiap langkah amalannya dengan tuntunan yang baik agar selamat dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Wallahu A’lam Bis Shawab.

Solusi

1. Sholat Istikhorah

Sholat istikhorah merupakan suatu hal yang sunnah dalam agama Islam yang diajarkan rasulullah saw. Sholat istikhorah dikerjakan ketika kita dalam keadaan bingung menentukan dua hal yang tidak kita ketahui mana yang baik mana yang buruk. Dalam keadaan seperti itu, selayaknya kita memohon pertolongan Allah dengan cara mengerjakan sholat istikhorah, sebab Allah mengetahui hal-hal yang tidak tampak baik yang dibumi maupun di langit.

2. Melihat wanita yang akan dilamar

Jika kita merindukan seorang wanita yang telah kita pilih melalui sholat istikhorah, maka Islam mensyariatkan untuk melihatnya sebelum melalui peruses pernikahan, sabda rasulullah saw,” Jika Allah meletakan rasa suka pada diri salah seorang diantara kalian terhadap seorang wanita maka hendaklah ia melihatnya, karena hal itu lebih memungkinkan untuk menyatukan antara keduanya.” (HR. Ibnu Majah)

DAFTAR PUSTAKA

Abu Abbas, M. Adil Abdul, Ketika menikah jadi pilihan, terj. Gazi Saloom, Judul

asli, Al-Zawaj wa al-‘Alaqaat al-Jinsiyyiah Fi al-Islam, Almahira; catakan 1, 2001

Mazhahiri, Husain, Pintar Mendidik anak, Lentera: Jakarta 2002

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kasus Kepribadian

BAB I PENDAHULUAN

Pada makalah ini penulis akan menganalisa kasus tentang sikap otoriter orang tua untuk sebagai renungan bahwa anak butuh kebebasan, kasih sayang, penghargaan dan pengaktualisasian diri seperti teori-teori kebutuhan Maslow yang menjadi landasan toeri pada kasus ini. Dan mengingatkan kita kepada kasus  Vian 9 th, kabur membawa USD.12.000. Dengan begitu banyaknya kampanye bahwa
pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak
Anak Sedunia, “To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choise” sebuah
seruan yang mengingatkan bahwa “Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan.”

BAB II PEMBAHASAN

Kasus

14 April 2008 • 9:50PM -0400

Tahun yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu Saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.
Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang Duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.

Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru
menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu
murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya
untuk melamun.

Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan
kepada Dika “Apa yang kamu inginkan ?” Dika hanya menggeleng. “Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?” tanya saya “Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat. Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah
untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan
soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya. Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemapuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 – 160.
Ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah
Yang menurut Psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab Itu Psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali Ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti
serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog Itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa factor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku :….” Dika pun menjawab: “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja” Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di computer dan sebagainya.

Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya,
Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana: diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa
kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku …” Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya “Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu” Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak …”
Maka Dika menjawab “Menganggapku seperti dirinya” Dalam banyak hal  saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja
keras,disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak : ..”
Dikapun menjawab “Tidak mempersalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa” Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi
kesempatan Untuk berbuat salah, kemudian Ia pun bisa belajar dari kesalahannya.
Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan “Aku ingin ibuku berbicara tentang …..” Dikapun menjawab “Berbicara tentang hal-hal yang penting saja”. Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya.

Dengan jawabab Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan. Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara tentang …..”,  Dikapun menuliskan “Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahan nya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku”. Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan “Aku ingin ibuku setiap hari…….. ” Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar ” Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku” Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap hari…..”
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata “tersenyum” Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan “Aku ingin ibuku
memanggilku. …” Dikapun menuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus” Saya tersentak sekali ! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang atau Le. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata “Lanang” yang berarti laki-laki. Sedangkan Le dari kata “Tole”. Waktu itu saya merasa bahwa panggilan tersebut wajar-wajar saja, karena hal itu merupakan sesuatu yang lumrah di kalangan
masyarakat Jawa.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi “Aku ingin ayahku
memanggilku ..” Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama Asli”.
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo” karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. “Persis Paijo, tukang sayur keliling” kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja disebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan “To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choise” sebuah seruan yang mengingatkan bahwa “Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan”. Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.
(sumber:Lestimingtyas)

Teori-teori psikologi kepribadian dari Abraham Maslow

Pada teori kepribadian ini Maslow menitik beratkan kepada hirarki kebutuhan Maslow yang harus dimiliki oleh setiap individu, yaitu:

1.Kebutuhan-kebutuhan fisiologis atau Biologis

Dimana kebutuhan ini adalah kebutuhan yang paling kuat dan paling jelas diantara kebutuhan-kebutuhanyang lainnya, yaitu kebutuhan mempertahankan hidupnya secara fisik diantaranya adalah: kebutuhan akan makanan, minuman, tempat untuk bernaung, sek, oksigen.

Maslow mengatakan seseorang yang belum terpenuhi kebutuhan dasarnya, maka ia akan terlebih dahulu memenuhi kebutuhan dasarnya sebelum beranjak kepada kebutuhan yang lain.

2.Kebutuhan akan Rasa Aman

Setelah kebutuhan fisiologis/biologis terpenuhi, maka muncul kebutuhan baru yaitu kebutuhan akan rasa aman. karena kebutuhan rasa aman sangat dibutuhkan pada masa kanak-kanak sampai pada masa lansia.

3.Kebutuhan akan rasa cinta kasih

Cinta, sebagaimana kata itu digunakan oleh Maslow, tidakboleh dikacaukan dengan seks, yang dapat dipadankan dengan sebagian kebutuhan fisiologis semata. Maslow juga mengemukakan bahwa tanpa cinta pertumbuhan dan perkembangan manusia akan terhambat. Menurut Maslow, cinta menyangkut hubungan yang sehat dan penuh kasih sayang antara dua orang.

4.Kebutuhan akan penghargaan

Setiap orang memiliki dua kategori kebutuhan yakni “harga diri dan penghargaan dari orang lain. Harga diri meliputi: kebituhan akan percaya diri, kompetensi, pengusaan, kecukupan prrestasi, ketidak ketergantungan dan kebebesan. Sedangkan kebutuhan akan dihargai oleh orang lain adalah: prestise, pengakuan, penerimaan, perhatian, kedudukan, nama baik serta penghargaan.

5.Kebutuhan akan aktualisasi diri

“Setiap orang harus berkembang sepenuh kemampuannya”, itulah yang dikatakan Maslow. Oleh karna itu, setiap orang dapat mengembangkan dirinya dengan sepenuh kemampuan yang dimilikinya untuk dapat menjadi manusia seutuhnya.

Analisi kasus dan Solusi

Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam pola tingkah  anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak pesan yang tak terucapkan. Bahwa merekapun butuh untuk mengaktualisasikan diri mereka tanpa terlalu didikte oleh orang tua dan bukan hanya kebutuhan materi yang mereka inginkan mereka juga ingin merasakan kasih sayang, peng hargaan terhadap pekerjaan yang telah mereka lakukan, bukan hanya cercaan terhadap kesalahan yang mereka lakukan. Tuntutan yang terlalu banyak diberikan oleh orang tua terhadap anak akan berimbas pada kepribadiannya kelak juga terhadap sosialisasi yang tidak baik dikarnakan kemampuan verbal yang tidak begitu baik pula. Kemampuan verbal yang tidak begitu baik dikarnakan ketidak bisaan anak untuk mengungkapkan keinginannya terhadap berbagai hal menjadikan semua yang ia ingikan terpendam pegitu saja. Seadainya orang tua lebih mengerti bahwa anakpun butuh akan kebebasan dalam artian positif anak akan melalui fase-fase kebutuhan Maslow dengan tanpa hambatan yang berarti.

Dan seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para ayah (orang tua) tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para ayah harus mendidik anaknya dengan kasih sayang bukan hanya hukuman-hukuman yang diberikan/perintah-perintah yang menbuat diri anak tidak nyaman. Pengertian terhadap hak-hak anak harus lebih diperhatikan baik fisik maupun mental. Dan berikanlah mereka lebel-lebel yang positif baik dalam penyebutan nama juga pada kesamaan yang mereka miliki dengan orang lain (seperi logat yang sama dengan Paijo, tukang sayur keliling).

PENUTUP

Untuk menyambut Peringatan Hari Anak Nasional Tanggal 23 Juli 2008, Penulis ingin mengingatkan kembali kepada para orang tua supaya selalu berpikir dan melakukan hal-hal yang baik bagi anak karena anak adalah tunas-tunas angsa yang semestinya harus lebih diperhatikan.