sembarang

Kadang isak pun tak terbaca oleh tangis, lalu hanya panas yang mengeringkan dahaga. Bila sembab tak meng-isyaratkan luka, biar hujan yang memberi arti, bahwa air tak hanya turun dengan tenang. Bila lirih juga tak terbaca, biar gemuruh yang memberi tanda. Tuhan… tolong datangkan angin untuk sekedar menyapa kemudian pergi belayar. Kau… bagaimana aku harus memahamimu, bila bicaramu adalah bisu.

 

seperti nyayian bayi yang didekap sang ibu

 

 

(Tangerang, 30 April 2012)

Iklan

perlukah kita menegur dengar keras anak/siswa yang unik (kurang patuh)?

mengapa saya memakai judul yang di atas “perlukah kita menegur dengan keras anak/siswa yang unik (kurang patuh)?” karena kebayakan dari kita/guru/orangtua, biasanya cepat sekali tersulut amarah dengan ketidak patuhan anaknya/siswa dalam pelaturan yang telah ditentukan di sekolah atau dirumah.

ada satu pertanyaan lagi “pernahkah kita memposisikan diri kita sendiri menjadi mereka/ada di posisi mereka (aplikasi sikap empati)?” yang masih kita lakukan adalah kita memposisikan diri kita sebagai orang yang harus ditaati, dihormati, dihargai, dan disegani. Dengan segala beban yang telah kita punya, masalah di rumah, masalah dengan rekan-rekan kerja, masalah dengan atasan, dan masalah pribadi, atau pernahkan kita merasa bahwa “kita memiliki masalah dengan Tuhan”? dengan beberapa masalah yang saya sebutkan di atas saja sudah membuat bad mood untuk kita menjalankan aktifitas sehari-hari apa lagi ditambah dengan anak-anak/siswa kita yang tidak patuh yang harus kita hadapi. Bisa saja timbul pertanyaan “tahukah mereka kami/guru/orangtua, juga memiliki masalah yang harus dihadapi? karena kami/guru/orangtua juga manusia biasa”

bila kita runtun dari beberapa masalah diatas mungkin saja sangat pelik, bila kita mempukul rata “kami juga manusia biasa”. coba kita lucuti satu persatu dengan mengaplikasikan sikap empati dan manajemen qalbu/kecerdasan emosi (EQ). sebatas yang kita tahu dari sifat, sikap anak yang membuat kita merasa jengkel membuat kita merasa bahwa anak tak pernah mengerti posisi kita sebagai apa. pernah kita masuk kedalam dunianya (anak), kemudian memahami apa yang sedang terjadi kepada mereka, mendampingi menyelesaikan masalah, memberi setitik jalan terang, kemudian menariknya dari zona tidak nyaman ke zona nyaman? ini yang menjadi PR buat kita semua.

menurut kami, tidak ada anak yang ingin seperti itu (memiliki banyak masalah, tidak bersikap santun dan berkata tidak sopan). coba kita lihat dari sudut belakang (latarbelakang), benarkah lingkungan, keluarga dan mungkin kita sendiri yang menyebabkan anak/siswa seperti ini? bila ya, maka cobalah dimulai dari pemberian senyum kepada  mereka ‘oh saya ada, karena guru itu tersenyum kepada saya’

aku bawa kiri kau bawa kanan

mengapa bertemu bila pisah kita nanti
mengapa menanti bila tak akan bertemu
aku bawa kanan kau bawa kiri
sudahi

mengapa mengikat bila terlepas
mengapa terlepas bila sudah terikat
aku bawa kanan kau bawa kiri
sudahi

kenapa ada kita bila kau dan aku tiada
kenapa ada kau dan aku bila kita sudah cukup
aku bawa kanan kau bawa kiri
sudahi

kenapa bersama bila sendiri
kenapa sendiri bila bersama
aku bawa kanan kau bawa kiri
sudahi