surat panjang tentang jarak kita yang jutaan tahun cahaya

 novel

¬†novel keren nih… karya Dewi Kharisma Michellia yang nyabet pemenang unggulan Dewan Kesenian Jakarta 2012. walaupun usianya terbilang muda, kelahiran 1991 tapi ‘wah’ banget plotnya. bukan novel picisan tong kosong nyaring bunyinya, tapi ada unsur-unsur ilmiah/pengetahuan yang bisa kita dapet dari helai demi helai bacaan. +buat saya novel adalah peneman sepi yang menimbulkan imaji yang bejibun, buat bikin karya yang nyerempet sama atau lebih ‘wah’ dari yang anda baca saat ini.

Iklan

surat ketiga, 19 nopember 2013

Tentangmu.

aku mencintaimu mulai saat ini sampai waktu yang belum bisa aku tentukan. mulai dari memilih tanggal, hari, minggu, bulan, tahun, pagi, siang, sore, malam dan entah yang terjadi di almenak yang aku lihat setiap hari.

sampai saat ini, aku masih menerka-nerka ada apa, siapa, di hatimu. ruang sempitkah yang kau sediakan untukku atau ruang bergema yang membuatmu riuh memanggil namaku.

aku tak paham tentang teori ruang yang berulang kali kau jelaskan di ruang itu. dengan hanya melihat matamu yang senja, aku bisa tenggelam lebih lama di dasar hayal yang tak kau terka sedikitpun.

lain harinya, aku melihat rambutmu yang kau pangkas dengan rapih, baju bersih beraroma wangi dan senyummu yang menawan. kau tawarkan aku sebuah pertanyaan tentang masa depan.

entah kau atau alter ego. surat ini terasa manis ku tulis dari dua surat yang terasa pahit kemarin lalu.

kau harus terus membacanya! sampai nanti aku berbicara tentangku.

surat kedua, 16 nopember 2013

hari ini, untuk sekian kalinya aku melewati rumah yang aku tunjuk sebagai tempat tinggal kita nanti. selepas jalan yang kita lalu, mungkin kau pikir itu hanya canda dari bagian tawaan kita yang terlalu banyak terdengar.

padahal banyak memory yang tersusun rapih telah masuk dalam ingatan jangka panjangku (long term memory). setiap jejak sesakitan, sudah ku coba untuk menghapusnya, lebih dari aku mengucap namamu.

seandainya dulu, aku tidak mengindahkan distorsi. entahlah jadi apa kita, jika bukan aku sebagai aku dan kau bukan sebagai engkau. dan kita bukan siapa-siapa.

manusiawi bukan, jika aku berteriak sebagai manusia dan menyebutmu di luar dari itu. pada kenyataannya kita tetap sebagai manusia tak bersayap.

aku tak sempat berlama-lama memandang yang aku ingat. ketika ku lihat, seorang ibu bermuka kusam, baju lusuh, sedang berjalan kaki tak menentu.

aku bersyukur masih bersikap waras, kau juga begitu bukan?

surat pertama, 09 Nopember 2013

untuk pertama kalinya, aku coba tuliskan apa yang aku pikir, tentangmu, tentangnya, tentang mereka, tentang semua orang yang ada di sekeliling kita. kalau kau tak mau dengarkan aku, aku akan paksa kau membaca semua surat yang aku berikan padamu, dengan menghilang… kau mungkin akan mengerti.

aku menemukanmu, di sudut yang paling dalam. kau tahu otakku seakan disalahkan karena tak berfungsi dengan baik. tapi aku bilang pada mereka, ini bukan salah otakku… tapi ini tentang hati.

dicampuri ambisi mungkin, apapun itu aku tak pernah tahu teori apa yang tepat ku lakukan untuk mencairkan hatimu. operant conditioningkah atau conditioned reflex atau teori gestalt atau sesuatu yang aku tidak tahu. harusnya kau tetap memanusiakan aku seperti manusia.

aku tak pernah memproyeksi siapapun, kecuali kau. tapi itupun gagal… aku tak mendapati argumen yang berarti untuk menjatuhkan hatimu lebih dari apapun.

semua hal ku buat menghilang masuk kedalam ketidaksadaran, dan pada akhirnya kau akan menemukanku seperti anak-anak kembali, dengan beberapa fase yang ku tinggalkan hanya untuk mencarimu.