Resensi Buku Jatuh; Azhar Nurun Ala

Photo0563

saya ikut terJatuh membaca buku ini.

siang tadi bukunya sudah Jatuh di rumah, sore hari bukunya tepat Jatuh di tangan saya, sesampainya di rumah. walaupun belum banyak yang saya baca, tapi saya sudah terlanjur Jatuh membaca tulisan yang berjudul JATUH:

04.05
Alarmku berbunyi

Aku bangun dengan hati yang pegal. ada bertumpuk-tumpuk rindu yang mengisi hampir seluruh ruang dalam rongga dada dan seluruhnya melekat erat di sana: pada segumpal daging maha lembut bernama hati–yang entah bagaimana caranya akhir-akhir ini punya daya tahan banting tinggi karena telah kau jatuhkan berkali-kali. setiap hari. setiap pagi bahkan sebelum aku mandi.

tapi pagi ini ada yang berbeda, nafasku diganjal oleh pegal, semacam sesak yang tak tertebak. apa yang terjadi?

: anak muda yang berbakat, lewat kata-katanya yang lembut dan perangai yang baik. sekilas yang saya baca, walaupun belum pernah bertemu secara langsung (gestur) Azhar Nurun Ala.

EPISODE RASA

Kemarilah! Akan aku ceritakan tentang malam-malam yang melipat siang, kemudian pagi yang tak mau kalah dengan fajarnya. Bila kau lihat malam cerah berbintang, rembulan sembunyi di balik awan, angin bertiup halus seperti perawan. Hitam tak begitu kelam, tanpa kau sadar… Kau hadirkan aku setiap bagian. Lewat hembus nafas yang hangat, lewat aksaramu yang lembut, lewat tingkahmu yang menawan, dan lewat lirikmu yang jeli. Pada tiap ruas dini yang mengigil, terlena pada kantuk yang kemarin, tak pernah kita tahu bait-bait ufuk yang juga jingga, menyemai kisah yang akan nyata. Laksana bunga di musim semi yang tak bisa sembunyi.

Rindumu seperti mengepal awan, kemudian buyar. Dan aku harus tidur dengan mimpi yang sama, kemudian bangun dengan takut yang mencekam.

Berapa banyak kuntum-kuntum bunga yang hendak mekar, kemudian tunas-tunas muda yang segar. Ketika angin sepoi-sepoi berdendang, beri kabar lewat aroma jiwa yang riang. Demi yang ganjil dan yang genap dan demi malam yang kesepuluh. adakah janji yang akan menjadi saksi, ketika raut-raut merona tak karuan?

yang jauh begitu dekat, yang dekat begitu jauh. yang dekat terasa redup, yang jauh terus bersinar. yang dekat juga jauh, terus terlena, yang diam hanya bisu. yang dekat terasa hina, yang jauh terus terpanah. Bicara terkadang lepas, yang tertawa terkadang hilang. Demi Hawa yang dipertemukan di jabal rahmah.

Taukah kau, ada yang kita tidak tahu dari dunia? Ketika mata terbelalak, telinga mendengar, hati merasa, kemudian senyum memanis. Ini yang kita tidak tau, ada sebuah keajaiban yang disebut CINTA. kemudian jangan pikat hati dengan akal, dan akal dengan hati. Karena jalannya bisa berbeda menuju titik yang sama. Mari denganku bersama, ilusikan isyarat alam yang menjadi saksi id kita dalam ketidak sadaran.

Merapal namamu bagai merajut mutiara, merindumu seperti mendustakan dunia, bait-bait salah menjadi benar karena benar, ibarat kau akar dan aku tunas yang akan mekar. #kairo

Padamu yang ber-raut halus, senyum mengembang tak mengingkari, dengan ratus bintang menari, bila harap sudah pasti, jangan lewatkan isyarat Illahi… untukmu yang bermuka teduh.

Coba dengar! Denting yang selalu kita dengarkan bersama-sama, saat degup jantung tak karuan, saat kau mulai mengajakku bicara. Curi-curi pandang dari tempat duduk yang berbeda, kau cuek aku kaku, kau tersenyum aku tandatanya. Saat kita masih bisa menikmati lorong-lorong gedung, sama-sama menanti yang dinanti. Melelahkan memang, tapi kita menikmati sajian awal.

bila berjauhan saja sudah terasa dekat, apa lagi dekat?
dekatnya kau atau tidak
jauhnya aku atau tidak
ini tak akan mengubah hati

 seperti yang kau ucap:

‘hati adalah penghubung antara kamu dengan Tuhanmu dan aku dengan Tuhanku. hati juga penghubung antara aku dengan dirimu, tiada kebohongan di dalam hati.’

juga tentang isyarat alam yang selalu kita rasa bersama, ketika kita sama-sama rindu kemudian tergugur haru, lalu meluap asa. bisakah salah, bila memang wajah tak bertemu tapi hasrat bicara?

cukup mulut mengatup tanda tak setuju
kemudian rasakan aku disaat rindu

 Tangerang, 02 Mei 2011

Saat ku hapus bekas bibirnya

bibir

saya suka cerpen ini, tapi tidak tahu siapa pengarangnya.  apa ada yang tahu?

Dua manusia duduk berdampingan, dalam remang kamar yang diterangi komputer yang menyala, sumber cahaya. Menyapu kedua wajah yang memantulkan riak – riak emosi. Sesekali membayang debaran pada air muka mereka, kemudian kembali tenang. Kening mereka mengkerut sesekali walau hanya sejenak, atau mata yang menyipit. Diiringi tarikan nafas yang sering tertahan, mereka merasakan hal yang sama, juga pikiran yang sama.
Tak ada yang mengeluarkan kata – kata sejak lebih dari satu jam tadi. Hanya suara musik yang mengalun mengiringi setiap adegan. Jika suara musik itu hilang, terdengar obrolan seperti berbisik yang hanya bisa tertangkap oleh telinga mereka. Belum bisa dipastikan bahasa apa yang dipakai. Dari luar kamar terdengar seperti gumaman. Seorang dari mereka mengangkat tangan dan meletakkannya di atas pundak orang di sampingnya. Tak ada reaksi. Mereka terus memandangi layar monitor sampai adegan terakhir. Dua pemeran utama dalam film itu berpelukan, berciuman. Dan film berdurasi sembilan puluh menit itupun berakhir.

“Kau pernah berciuman, Dan?” tanya Hasrul dengan logat Medannya, sambil menghembuskan sisa nafas yang tertahan ketika menyaksikan adegan terakhir tadi.

Madan tidak segera menjawab. Disingkirkannya terlebih dahulu lengan Hasrul yang bergelayut di pundaknya. Sebelumnya Madan tidak ngeh dengan lengan kekar itu. Sekarang dirasakannya begitu berat. Dia pun terlalu fokus pada adegan ciuman di film romantis itu.

“Pertanyaanmu terlalu personal, Srul.” jawab Madan sambil mengeluarkan CD dari CPU, menyalakan lampu kamar, lalu mematikan komputer yang mereka gunakan untuk nonton film itu.

“Maksud kau apa?”

“Orang dewasa dan terdidik tidak membicarakan pengalaman dari relung subyektifnya secara vulgar.”

Hasrul tidak menangkap maksud Madan. Apalagi sadar kalau Madan sedang memproteksi rasa rendah dirinya karena belum pernah berciuman.

Belum lagi Hasrul sanggup mencerna kalimat terakhir, Madan segera menyergap dengan keahliannya bersilat lidah untuk memutarkan perhatian Hasrul.

“Lebih baik kita membedah persoalan dengan pertanyaan, ‘sejak kapankah berciuman menjadi fenomena budaya?’ Pertanyaan ini lebih relevan, kan?” ujar Madan fokus.

Hasrul mengerahkan pikirannya. Keningnya berkerut sejenak. Sebenarnya agak sulit Hasrul menghubungkan ciuman dengan kebudayaan. Di benaknya hanya ada gambaran sepasang kekasih berciuman dan penari yang sedang menarikan tarian adat, lengkap dengan busana adat. Adat daerah mana? Hasrul sendiri belum bisa mengidentifikasi, namun demikian, Hasrul memiliki kesadaran tinggi, bahwa dirinya adalah mahasiswa yang sanggup berdikusi tentang apa saja, kapan saja, dimana saja.

Demi status kemahasiswaannya, Hasrul mencoba dan mengimbangi Madan.

“Baik jika itu mau kau, kapankah berciuman menjadi fenomena budaya?”

Madan diam, berusaha mengumpulkan pengetahuan tentang berciuman, yang sebenarnya belum begitu banyak juga ia ketahui.

“Menurut sebagian orang modern, mencium adalah ekspresi perasaan, khususnya rasa sayang atau cinta pada kekasihnya. Sebenarnya, jauh sebelum zaman ini, ciuman sudah dipraktekan di beberapa tempat di dunia ini sebagai adat istiadat. Pemaknaannya berbeda – beda.

“Misalnya, di benua Afrika pada suku – suku tertentu, mencium tanah pada saat kepala suku datang dimaknai sebagai bentuk penghormatan. Ada juga kelompok manusia di tempat lain di zaman dulu yang menganggap mencium tangan dan kaki adalah bentuk penghargaan atau penghormatan.”

“Bukan mencium tanah atau mencium tangan yang kita persoalkan, Dan!” protes Hasrul.

Madan tidak menggubris protes Hasrul yang tidak sabaran.

“Di Romawi, mencium mulut atau mata dilakukan orang pada saat menyambut tamu. Itu dimaknai juga sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan. Ada informasi yang menceritakan bahwa salah seorang raja Romawi yang mengijinkan bangsawan lapis atas untuk mencium bibir raja, sementara bangsawan lapis bawah hanya untuk mencium tangan dan kakinya saja.”

Madan terdiam sebentar, membuka bungkus rokok. Mengambilnya sebatang dan menyulutnya. Asap putih mengepul mengisi ruang sempit itu. Madan sedang menarik rasa penasaran Hasrul.

“Terus kapan ciuman itu menjadi sebuah kebiasaan atau budaya?” tanya Hasrul memecah kebuntuan dengan rasa penasaran.

“Ada dugaan, berciuman sudah dilakukan sejak manusia ada di bumi. Tentu saja setelah ada dua manusia. Karena kalau sendiri tidak ada yang bisa dicium. Dugaan ini berangkat dari anggapan bahwa ciuman merupakan ekspresi perasaan asli yang dimiliki setiap manusia. Mungkin Tuhan sudah memasukkan unsur tertentu dalam penciptaannya sehingga manusia merasa perlu untuk berciuman jika ingin mengungkapkan perasaan sayang atau cinta itu.”

“Amati saja kasus seseorang ibu yang menyusui bayi, atau ibu yang suka menciumi anaknya. Itu, kan sangat asli dan original manusiawi. Tidak ada yang mengajarkan si ibu untuk menciumi anaknya ketika berlimpah perasaan sayang, terjadi begitu saja.

“Tapi, ada keterangan lain yang menyebutkan bahwa berciuman mulai berlangsung sejak abad ke enam. Bangsa pelopornya adalah Prancis. Bangsa ini pulalah yang mempopulerkannya. Di Prancis masa itu, setiap kali selesai berdansa, orang kemudian berciuman dengan pasangan dansanya. Kebiasaan ini kemudian menyebar ke seluruh dataran Eropa. Konon, sejak saat itulah orang – orang dewasa selalu berciuman setiap kali memadu kasih atau bercumbu dengan pasangannya.”

“Jadi selain penghargaan atau penghormatan, ciuman juga merupakan bentuk kasih sayang!?” Hasrul mencoba menarik kesimpulan.

“Tapi, ada juga tinjauan anthropologi – biologi.” Madan ingin membuat Hasrul tambah penasaran.

“Apaan tuh?”

“Menurut tinjauan ilmu ini, ketika terjadi ciuman anatara laki – laki dan perempuan, secara bersamaan terjadi pertukaran air liur atau ludah. Disadari ataupun tidak, rasa air liur ini bisa menimbulkan rangsangan biologis yang memacu libido si pengecap. Karena yang berciuman adalah sepasang manusia, yang saling mengecap air liur, maka kedua – duanya terpaku rangsangan biologis dimana libido mereka terpompa dengan cepat. Peristiwa saling mengecap air liur ini menimbulkan sensasi tertentu, yaitu perasaan melayang atau ecstacy. Inilah mungkin kenikmatan yang dicari – cari setiap orang yang berciuman. Perasaan ecstacy itu. Hanyut atau hilangnya kesadaran sosial yang bersifat atribut. Sepengetahuanku, mahasiswa maupun dosen tidak ingat dirinya sebagai mahasiswa atau dosen ketika mereka berciuman. Ini pulalah premis – premis yang kemudian tersusun menjadi tesis utama anthropologi – biologi, yaitu berciuman atau saling bertukar air liur merupakan kebutuhan biologis setiap manusia. Maka tak heran di lingkungan suku – suku tertua di dunia ini pun sudah ditemukan beberapa fakta yang menunjukkan bahwa mereka sudah melakukan praktek berciuman.”

“Oooohhh… rupanya kau pantas menjadi pendamping dokter Boyke atau Naik Sitobing!” ujar Hasrul dengan rasa kagum. Entah mengerti atau bingung, ada beberapa kalimat yang melekat di benaknya. Dia kemudian mencoba lagi menarik kesimpulan.

“Kalau begitu, selain ungkapan rasa hormat penghargaan, dan sayang serta cinta, ciuman juga bisa berarti tukeran air liur, begitu?!”

Madan tak segera menanggapi. Dia sendiri masih mengira – ngira dan membayangkan, bagaimana rasanya air liur itu? Madan menelan ludah sendiri sebelum akhirnya menanggapi.

“Bisa kepemilikan, bisa juga penghinaan, tergantung sudut untuk memandang persoalan”, jawab Madan.

“Kok tergantung, macam mana pula kesinpulan kau itu? Tidak kutemukan dalam penjelasan tadi?” Hasrul protes lagi. Ia bingung dengan pernyataan Madan terakhir. Kini giliran dia bertanya, karena tidak punya lagi bahan penjelasan, dengan agak menyelidik.

“Pernah pacaran Srul?” Hasrul menggeleng.

“Panteesss, kau nanya ke sana ke mari.” kata Madan meledek.

“Kau, yang ngomong ke sana ke mari. Emangnya kau pernah? Pacaran?”

“Sebelum dengan Shanty, pernah aku dulu pacaran dengan teman sekelas di SMA. Namanya Levy. Suatu hari, aku, Levy dan dua orang teman membolos. Kami nongkrong di daerah parkiran Monas. Kedua temanku itu adalah sepasang kekasih juga. Di kawasan parkir itu, dalam mobil, di bangku depan, mereka bercumbu mesra. Sampai terdengar bunyi decak dari dua mulut yang bergumul.”

Madan menunda ceritanya, dan mencoba menirukan bunyi decak mulut berciuman. “Mmmmmmpuah…!” Mulut Madan monyong.

“Bagus kali moncong kau itu. Kau berciuman juga saat itu?” tanya Hasrul ingin tahu.

Madan menggeleng.

“Kenapa?” tanyanya heran.

“Tak berani. Mungkin karena nilai – nilai normatif di kepala dan hati sudah terlalu meresap menjadi bagian tak terpisahkan dari diriku. Nilai – nilai itulah yang memacu syaraf malu dan takut sekaligus. Kalau soal keinginan, jangan ditanya.”

“Pacar kau?”

“Pacarku itu, dari gelagat yang kutangkap sepertinya sangat mengharapkan untuk dicium.

Tapi, seperti biasa, makhluk emosional itu terlalu gengsi untuk memulai, apalagi meminta.”

“Lalu?”

“Kami putus, dia bilang ‘kau pikir untuk apa kita pacaran, hanya ngobrol?’ Dia mengatakan itu dengan marah. Terus, katanya lagi, ‘cari saja perempuan lain, sebab aku pun akan mencari lelaki lain yang mau berciuman.”

“Apa yang kau rasakan dan lakukan?”

“Sakit dan membiarkannya.”

“Sejak saat itu kau berubah?”

“Ada sedikit.”

“Kau cium Shanty?”

Madan terdiam.

“Eh, ayolah ceritakan padaku. Janji aku tak akan menceritakannya kepada siapapun. Bahkan ke bantal dan gulingku sekalipun.”

“Kau janji Srul?”

 ******

 “Aku sering mengamati bagaimana awal mulanya sepasang kekasih berciuman. Dalam banyak kasus, selalu saja lelaki yang memulai. Entah dengan memegang tangan atau tengkuk sang kekasih sambil menunggu sinyal persetujuan atau dengan meremas – remas jari kekasihnya. Sinyal itulah yang menentukan apakah peristiwa berciuman bisa terjadi atau tidak. Apakah si laki – laki akan mendapatkan ciuman balasan atau dibalas dengan tamparan? Kebanyakan sinyal itu dapat dibaca dari sorot mata.”

“Menurut cerita teman – temanku, pertama kali mereka berusaha mencium kekasihnya, ada perasaan tegang dan ragu yang menyelimuti. Ada rasa canggung dan takut untuk melakukannya. Tapi, karena desakkan rasa ingin tahu dan rasa ingin mencoba begitu besar, akhirnya mereka berani juga melakukannya. Resiko biasanya disimpan di belakang.”

“Dari kebanyakan cerita yang kudengar, berjalan mulus. Mungkin karena memang banyak juga perempuan yang ingin merasakan atau rela menerima perlakuan pasangannya. Bisa jadi karena rasa sayang, tapi bisa jadi pula karena memang ingin. Aku tak pernah mendengar cerita dari temanku tentang ciuman dibalas dengan tamparan, mungkin teman – temanku yang mengalaminya tidak ingin menceritakan peristiwa yang bagi sebagian laki – laki dianggap memalukan.”

“Pernah juga kusimak obrolan antara sepasang kekasih. Bukan sekedar ngobrol, tapi ngobrol sebagai bagian dari usaha untuk mendapatkan ciuman. Ada seorang teman yang waspada, berkata, ‘gue nggak suka lho orang munafik.’ Ini adalah jebakan logika. Arti tersembunyinya adalah, “lu mau dicium, berarti tidak munafik; tapi kalo nolak berarti munafik. Coba tebak, siapa orangnya yang mau dibilang munafik?” tanya Madan pada Hasrul.

“Tak seorangpun mau!” Hasrul dengan cepat menjawab.

“Nah jebakan logika seperti ini melindungi diri sekaligus menyerang dengan ancaman. Kalaupun mendapatkan penolakan, rasa malu akan terlindungi dengan aman.”

“Aku tak mau menggunakan logika ini, selain kekasihku cerdas, jebakan seperti ini hanya dipakai oleh penipu murahan, bukan ksatria. Apalagi kalau ingat kecerdasan kekasihku, jebakan seperti ini hanya akan dibantainya dengan membalikan terminologi, ‘orang kafir adalah orang yang mempertarutkan hawa nafsunya, dan berciuman dipicu oleh hawa nafsu yang paling dahsyat.’ Kalau sudah begini, bukannya dapat ciuman, malah aku yang terperangkap jebakan sendiri.”

“Maksud kau?” tanya Hasrul menyela.

“Biarkan aku meneruskan kata – kataku!” pinta Madan dengan suara penuh otoritas.

“Temanku yang lain punya cara yang lain pula. Dia memulai penjajakan menuju ciuman dengan bercanda, canda yang diarahkan tentunya. Kelebihan cara ini lebih bersifat defensif. Kalaupun ditolak, tidak akan tertimpa malu dan jatuhnya harga diri. Canda yang lazim digunakan adalah seperti menyentuh daerah – daerah genital pasangannya. Jika muncul sinyal positif, sentuhan akan terus berlangsung sampai menuju bagian yang paling sensitif. Sebaliknya, kalau sinyal negatif yang muncul, tak apalah diurungkan niat untuk mencium. Toh hanya bercanda.”

“Tapi persoalannya canda seperti ini tidak bisa dilakukan di sembarang tempat. Tidak mungkin menyentuh daerah genital di warteg, misalnya. Paling banter yang bisa dilakukan hanyalah candanya saja, tidak dengan ciumannya. Tempat – tempat yang paling mungkin untuk menempuh cara ini memang agak eksklusif . bioskop, cafe remang, atau mobil pribadi. Nah inilah persoalan, semua tempat tidak ini murah. Dan siapapun tahu, tidak murah adalah persoalanku. Tapi ini jangan diartikan bahwa aku murahan. Lebih tepat kalau dibilang bersahaja.

“Nah, kembali ke kekasihku. Ia adalah tipe perempuan yang mudah merasa risih. Kepantasan tata krama selalu diutamakannya.”

Dari semua pengamatanku tentang berbagai cara untuk mendapatkan ciuman, akhirnya aku lebih suka merumuskan cara sendiri, sekaligus melaksanakannya. “Ijinkan Kuhapus Bekas Bibirnya di Bibirmu dengan Bibirku,” karya Rahmad Rangkuti. Caraku ini boleh disebut dengan metode mengarahkan pikiran.

“Begini. Pelaksanaannya. Sengaja kubawa cerpen itu dan kuberikan pada Shanty, kekasihku, agar ia membacanya. Setelah itu kami membahasnya. Ini langkah awal untuk mengarahkan pikirannya. Metoda ini, lebih intelek dan lebih romantis.” ujar Madan menyatakan pandangan subjektifnya.

“Terus?” pinta Hasrul penasaran.

“Saat itu, aku duduk di sampingnya. Kulihat dia tersenyum ketika baru membaca judulnya saja. Bola matanya yang bergerak – gerak horizontal menandakan dia sudah mulai membaca isinya. Tampak begitu menikmati. Memperhatikan kekasihku membaca saja sudah menimbulkan kenikmatan tersendiri. Cukup memakan waktu, tapi, setiap detiknya kunikmati.”

Selesai juga dia membaca. Menarik nafas, lalu mengangkat kepalanya. Lurus pandangannya ke depan. Dan aku yakin, dia tak melihat apa – apa, kecuali gambaran yang terbangun oleh cerpen itu. Walaupun mungkin hanya sesaat saja gambaran itu muncul.

Aku bertanya, “bagaimana menurutmu cerpen itu?”

Panjang lebar dia mengemukakan komentar atas apa yang baru selesai dibacanya. Lagi – lagi aku menikmatinya. Memperhatikan riak air muka dan gerakan bibirnya. Aku memang mendengar dia berbicara, tapi telingaku hanya menangkap bunyi suaranya yang khas. Tak kuperhatikan kata – katanya, apalagi segala maksud dari semua komentarnya.

Untunglah, ketika dia meminta pendapatku tentang komentarnya, mulutku sudah terbuka dan bertanya padanya.

“Pernah ciuman?”

Dia hanya menggelengkan kepala.

Melambunglah perasaanku. Melayang penuh harapan. Bangga sekaligus merasa beruntung. Aku tidak perlu menghapus bekas bibir siapapun di bibirnya. Muncul setitik keraguan tapi segera kubunuh. Rasa senang tak terkirakan, aku bisa menjadi orang pertama baginya, dan mudah – mudahan yang terakhir.

Bercerita pula dia tentang neneknya yang selalu mencium keningnya, tanda sayang. Kuanggap itu sebagai tanda, sedangkan aku sedang mencari cara. Ini akan menjadi ciuman pertamaku seumur hidup kepada seorang perempuan, selain ibu dan nenekku. Kupandangi bibirnya yang terus saja bergerak. Jantungku berdebar. Pikiranku mulai agak kacau. Dia terus saja bercerita, tetapi telingaku tak dapat mendengar kata – katanya. Tiba – tiba dia bertanya, membuyarkan pikiranku.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Kamu.”

Dia tersipu. Hatiku seperti disapu angin. Tenang, memompa rasa percaya diri.

“Kamu manis, juga cantik.”

Pipinya memerah.

Mobil berhenti. Seorang laki – laki naik. Dia duduk persis di hadapan kami. Menemukan wanita cantik di depannya, mata pria itu berbinar – binar. Kupahami sorot mata itu. Mata laki – laki. Seperti mataku. Seperti mata semua laki – laki. Peka terhadap perempuan. Tubuh kaum hawa. Tubuh yang seharusnya dimuliakan. Bukan untuk diperkosa. Dan laki – laki itu sedang memperkosa kekasihku. Diam – diam dengan matanya. Tapi mataku, mata laki – laki memahami semua detilnya. Memahami gejolak di balik sorotnya. Memahami gelembung hawa libido di dada laki – laki itu. Mungkin dia memikirkan bagian – bagian tubuh kekasihku. Wajahnya, bibirnya, pipinya, kulit lehernya, buah dadanya. Membayangkan vaginanya. Pantatnya. Semuanya, semuanya. Menelanjangi kekasihku, dengan pikirannya. Dia sedang memperkosa kekasihku. Bukan hanya dengan matanya, tapi juga pikirannya.

Aku marah.

Tak ada syahwat, tapi amarah. Keakuanku tertantang manusia lancang. Bola – bola udara panas bergemuruh dalam dadaku. Dia adalah laki – laki yang berada di samping perempuan ini? Baik. Aku layani tantangan itu. Tapi bagaimana?

Kubayangkan aku memukul wajahnya. Mencungkil kedua matanya. Lalu? Aku menjadi kriminal. Bagaimana kekasihku menilai? Rasanya tak mungkin perempuan yang menjadi pusat pikiranku selama ini mau menjadi kekasih seorang kriminal. Lalu bagaimana?

Aku harus mengalahkannya. Aku harus membuktikan bahwa akulah pemilik perempuan ini. Akulah yang berhak atas perempuan ini. Hak untuk memuliakannya. Hak untuk menjaganya tetap mulia.

Sudut mataku melihat jari tangan laki – laki itu. Ya, Tuhan! Dia sudah punya istri. Lihat itu cincin kawinnya. Seliar itukah laki – laki ini? Atau memang semua laki – laki?

Kutakar umurnya. Sepertinya mendekati kepala tiga. Harus kuapakan laki – laki itu?

Ah, Shanty! Belum juga sadar akan dirinya yang sedang ditelanjang, diperkosa. Dia masih saja diam. Larut dalam pikirannya. Apa yang dipikirkan kekasihku ini? Masih terhanyutkah dia dengan segala sanjungan yang kuberikan padanya tadi? Ini demi dia, demi aku, demi aku dan dia. Demi niat menjadi orang pertama dan terakhir.

“Aku akan menciummu!”

Kunyatakan tegas kalimat itu walaupun dengan berbisik di dekat telinga Shanty ini sebenarnya isyarat buat manusia lancang itu, bahwa perempuan ini adalah kekasihku.

Sungguh tak terduga reaksi Shanty. Disangkanya aku bercanda. Dia malah menunjukkan kepalan tangannya dengan canda.

“Nanti Shanty tonjok, nih!”

Laki – laki itu bergeming. Masih saja menatapi kekasihku. Malah kutangkap kilatan sorot mata yang memusat pada senyum Shanty. Kulihat pancaran hasrat yang bukan – bukan. Sampailah aku pada jurus yang kuanggap pamungkas dalam situasi itu.

Kudekati wajah Shanty seperti ketika hendak berbisik tadi. Shanty mendekatkan wajahnya. Tinggal berjarak setengah jengkal saja. Sedetik kemudian.

KENING SHANTY KUCIUM.

Shanty terperanjat. Juga laki – laki itu. Memalingkan wajah dan pandangannya dari kekasihku ke tempat lain. ‘Itu lebih baik.’ Pikirku.

“Stop! Kiri!”

Mendadak Shanty meminta supir angkot untuk berhenti.

“Saya turun disini.”

“Baik Neng. Tapi gak perlu ngagetin kalau minta berhenti!”

Shanty tidak peduli. Dia terus berjalan menjauh, seperti juga angkot yang melaju kembali, menjauh. Didesak oleh sedikit panik, aku mengejar Shanty. Mencoba meraih tangannya. Seperti tertusuk dadaku, dia menepis tanganku.

“Kenapa kamu lakukan itu?” sengit Shanty.

Aku tak bisa menjelaskan apa yang kurasakan. Shanty sudah menutup semua kemungkinan menerima penjelasan. Sungguh tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, selain :

“Aku sayang kamu.”

“Kenapa kamu mempermalukan aku?”

 *****

Hasrul ngakak nyaris terpingkal.

“Ah, kupikir kau sudah pernah bertukar air liur dengan perempuan!!!” katanya dengan nada meledek.

“Kau juga belum pernah, kawan.” jawab Madan balik menikam.

“Tapi aku tak banyak cakap seperti kau.” bantah  Hasrul.

“Kau tahu Srul, kita ini mahasiswa, dalam banyak hal, kita hanya bermain pada tataran teori saja.” kelit Madan.

“Tak mau dengar aku.” ujar Hasrul seraya ngeloyor ke luar kamar. Sementara Madan mengeluarkan dompetnya dan membaca sebuah surat.

 ***** 

 Dear Madan.

Aku lebih memilih berbicara dengan surat ketimbang dengan kamu saat ini. Aku masih marah atas perlakuan kamu waktu itu. Perlakuanmu mencium jidatku di dalam angkot. Jujur, mungkin pertama kali kau akan mencium hanya dikeningku, tetapi kalau hal seperti itu aku biarkan, biasanya kaum pria akan meminta lebih, mencium bibir, meraba payudara bahkan sampai mengajak “bercinta”. Kemudian, setelah itu banyak pria berkhianat atas nama cinta.

Kebanyakan pria yang kukenal melalui teman – temanku, jarang sekali di antara mereka yang sanggup berfikir sederhana tentang tubuh, terutama tubuh perempuan. Kadang mereka tak sanggup berfikir bahwa payudara adalah segumpal daging yang menonjol di seputar dada perempuan, dengan syaraf – syaraf yang tersusun rumit namun rapi, berfungsi mengolah darah menjadi zat makanan yang syarat gizi berupa cairan yang berwarna putih – kita sebut air susu. Makanan bagi setiap makhluk di awal – awal proses kehidupannya, selalu diahasilkannya sesuai dengan kebutuhan.

Kenapa pria selalu berusaha menjamah bagian ini?

Lain dari contoh itu, jarang sekali kebanyakan dari mereka mengarahkan jalan pikirannya tentang vagina dengan sederhana?yaitu sebagai lubang bagi manusia berpindah dari tempat yang nyaman ke tempat yang syarat perjuangan. Tempat mula manusia meniti kehidupan tahap demi tahap sesuai proses yang harus dilewatinya. Dari sana manusia mengayun langkah dengan tangisan, memulai kehidupan.

Dapatkah kau merenungkan rasa sakit saat darah mengalir dari otot – ototnya yang meregang? Perempuan itu mengerang, merintih menahan perih dan nyeri syaraf – syaraf seputar otot yang robek. Sambil terus mengusahakan alastisitas otot terlembutnya hingga batas maksimal. Penderitaan seperampat maut itu ditahankan agar manusia – yang kelak dipanggil anak – dapat keluar dari rahimnya. Tak mengeluh, tak berputus asa, kecuali berharap dapat mendengar suara tangis makhluk yang telah membebaninya selama sembilan bula, dan mungkin juga akan membebaninya bukan hanya sepanjang hidupnya, tetapi kelak dalam kehidupan abadi di akhirat.

Mendengar tangis sang bayi, dan suara pertama yang dilantunkan setiap manusia. Suara penuh makna yang sanggup menyentuh sisi terdalam lubuk hati dan harapan siapa saja. Suara yang dapat membayar penderitaan menjadi kebahagiaan.

Sanggupkah kamu berfikir sederhana seperti itu?

Jika tidak, hubungan kita saat ini harus dihentikan sejenak. Bukan, bukan aku tak sayang lagi kepadamu. Aku masih sayang padamu. Bukan juga aku tak menginginkan hal – hal seperti itu, aku juga manusia sepertimu yang mempunyai kebutuhan biologis. Hanya saja menurutku itu hanya persoalan ruang dan waktu.

Ruang yang memang memungkinkan sepasang makhluk untuk bercengkrama harus disesuaikan dengan waktu. Bukan malam. Melainkan waktu dalam arti perjalanan hidup, yakni pada saat setiap pasangan disatukan dengan tali pernikahan.

Mudah – mudahan kita memang dipertemukan takdir, pada saat itulah…kau tahu kan…apa yang kubayangkan????

dendang hujan

angin saja bisa membuat gemuruh di langit yang mendung
kemudian hujan turun menyambut bumi
gerimis membadai? ah tidak! ini hanya sebuah percikan air yang membuatku terasa sakit.

ketika katak-katak cinta bernyanyi
berdendang irama-irama perayu bagi para betina
ada hujan
ada gemuruh
ada katak
ada rindu

tak pernah terlintas ada kilat begitu indah
laksana kau sayat hatiku, kemudian kau temukan dirimu
hiperbola yang dibuat oleh rasa, tapi harum tetap seperti tanah
basah dan menggenang.

tak ubahnya senandung-senandung duka
tak ada bendera kuning di sana
aku
tetap sama, seperti air yang tahu tempat muara.

Tangerang, 14 April 2013

BERTEMU DENGANMU

 

Photo0319

seperti sebuah paduan yang sama
tawamu memecah sunyi
saat kita terjebak di lorong pengap
kau tetap menertawakannya
sedang aku mulai lelap di sampingmu

sayangku,
bagai seribu pintu yang kau warnai
yang melatarbelakangimu sebagai cahaya
ketika kau ucap; kita belum mulai
aku mulai melangkah, mempercepat langkah

sedang tapak yang lalu masih jelas menceritakanmu
gugupmu mendulang mimpi
alur yang ku sangsikan menjadi memoar yang hilang
dan untuk itu, kenapa kau berhak untuk dirindukan
meskipun pertemuan bukan sebuat titik temu

Tangerang, 11 April 2013

Pernikahan Simulasi

cincin

saya suka banget sama cerpen ini, gak tahu pengarangnya siapa?

Pernikahan Simulasi [1]

”Aku sungguh-sungguh tidak mengerti kenapa orang harus menikah,” gerutuku.

Idan tertawa. “Ibumu menanyakan calonmu lagi?”

Aku mengangguk cemberut.

“Apa jawabanmu kali ini?” godanya.

“Aku tidak menjawab. Aku langsung meninggalkan ruang makan dan masuk ke kamar.”

Idan terbahak. “Kau kekanak-kanakan,” katanya.

“Habis jawaban apalagi yang mesti kuberikan, Dan? Aku sudah kehabisan alasan, kehabisan stok bohong. Dan ibuku malah makin gencar menteror.”

Idan tersenyum . “Kau benar-benar seperti anak-anak. Kalau kau jadi ibumu, apa kau tidak akan blingsatan kalau anakmu belum juga menikah pada usia tiga puluh tiga.”

“Aku akan sangat gembira kalau anakku tidak menikah seumur hidupnya,” komentarku.

Alis Idan terangkat. “Kenapa?”

“Pernikahan hanya memperumit hidup perempuan.”

“Pernikahan juga membuat hidup laki-laki lebih sulit.”

“Persis!” potongku.

“Untuk apa menikah kalau yang kita dapat hanyakesulitan?”

“Mungkin karena kesulitan itu hanya efek sampingnya, sementara keuntungannya lebih banyak?”

“Sok tahu,” cibirku. “Kau sendiri belum menikah. Apa yang kau tahu tentang keuntungan menikah.”

“Aku sudah cukup banyak belajar, Pit. Umurku sendiri sudah tiga puluh lima, kebanyakan teman-temanku sudah berkeluarga.”

“Tapi kau tidak! Akui sajalah. Kau setuju kan kalau hidup sudah cukup pelik tanpa perlu lagi menikah?”

Idan tersenyum. “Ya, memang.”

“Lebih enak hidup seperti ini. Bebas!”

“Setuju. Tapi ingat, aku bukan sama sekali tidak mau menikah, lho. Aku hanya masih menunggu calon yang pas.”

Dan aku menghela nafas panjang. “Ah, ya. Calon.”

“Itu kan sebenarnya alasanmu untuk tidak juga menikah?”

“Ya, ” gumamku enggan.

“Bukan karena kau sama sekali antimenikah.”

Aku menggeleng. “Jangan bilang siapa-siapa, tapi kadang-kadang aku kepingin juga digandeng seseorang saat datang ke pesta.”

“Tapi kau bisa saja bergandengan dengan salah satu pacarmu kan?”

“Gandengan pacar itu lemah. Gampang putus,” komentarku pahit.

“Maksudku, aku mau orang yang sama menggandeng tanganku ke mana pun aku pergi.”

“Apa susahnya menggaji orang yang mau menggandeng tanganmu ke mana-mana? Ini zaman susah. Banyak pengangguran.”

“Idan!” kuayunkan tanganku, tapi begitu hapalnya ia dengan reaksiku ia menghindar sambil tertawa.

“Kau sadar kan kalau menikah itu lebih dari sekadar mengontrak penggandeng tetap?” tanyanya kemudian, lebih serius.

“Ya. Justru itu. Aku tidak bisa membayangkan menikah dengan orang yang salah. Kalau saja,” aku terdiam.

“Apa?”

“Kalau saja aku bisa yakin bahwa lelaki itu akan tetap manis dan baik hati setelah ia berhasil menikahiku. Bagaimana seorang perempuan bisa tahu kalau lelaki yang merayunya ternyata suami yang payah? Yang suka memukuli, mencaci maki, menghina; orangnya pelit, cemburuan, suka berbohong dan berkhianat.”

“Pit, laki-laki yang begitu sedikit sekali.”

Aku menggeleng. “Semua laki-laki binatang.”

“Bagaimana dengan aku? Aku laki-laki.”

“Kau bukan lelaki, Dan. Kau malaikat.”

Idan terbelalak. Didekapnya dada kirinya dan ia terkulai di kursinya.

“Idan!” desisku. “Nanti orang-orang memperhatikan kita!”

“Pit, kau sadar kalau aku belum mati? Aku harus mati dulu sebelum jadi roh dan mengajukan lamaran menjadi malaikat,” dan ia kembali terkulai, mata tertutup, lidah terjulur.

“Idan, Idan,” desahku.

“Kalau kau memang mau menikah, berobatlah.” Ia tergelak.

“Dan kau. Kalau kau memang mau menikah, percayalah setidak-tidaknya pada satu orang saja dari golongan laki-laki.”

“Aku tidak bisa, Dan.”

“Berarti kau memang tidak bisa menikah. Tidak mungkin dan tidak akan. Dan kalau kau memaksakan diri, kau akan merana. Dan kalau kau sengsara kau akan makan makin banyak. Dan kalau kau makan banyak-banyak kau akan …?”

“Idan!” walaupun nada suaraku keras, aku tak bisa menahan senyum mendengar pernyataan konyol itu. Setelah dua puluh tahun menjadi sahabatku, ia benar-benar telah memahamiku.

“Apa kau pernah berpikir tentang ibumu?” katanya kemudian. Seperti biasa ia bisa menjadi sangat jenaka dan kemudian serius hanya dalam selang waktu sepersekian detik. “Ia pasti sangat ingin kau segera mendapat pasangan tetap. Ia akan lebih tenang kalau tahu kau akhirnya punya seseorang yang akan menemani dan melindungimu.”

“Jangan bicara begitu,” cetusku, kembali manyun.

“Satu, ini hidupku, bukan hidup ibuku. Aku sedih kalau ibuku sedih. Tapi kalau suamiku berkhianat, apa ibuku mau menanggung rasa malu dan sakit hatiku? Kedua, aku tidak butuh pelindung. Kau tahu aku bisa mengurus diriku sendiri. Kalau itu yang aku butuhkan, aku bisa menggaji lebih banyak pembantu, plus bodyguard kalau perlu.”

“Baik, baik, Tuan Putri. Hamba mengaku salah,” Idan membungkuk dalam-dalam. “Jadi, dengan asumsi kau tidak sama sekali menihilkan kemungkinan menikah, apa yang ingin kau capai dengan itu?”

Aku tertunduk lemas. “Itulah, Dan,” desahku. “Aku tidak tahu. Apalagi yang aku butuhkan saat ini? Aku punya pekerjaan dengan masa depan yang lumayan. Jadi menikah untuk alasan ekonomi jelas-jelas bukan pilihan untukku. Aku punya teman-teman diskusi, sahabat untuk berbagi, jadi kesepian juga bukan alasan bagiku untuk menikah.”

“Bagaimana dengan keturunan?”

“Anak? Apa aku harus menikah untuk punya anak? Aku bisa mengadopsi bayi, kan? Di luar sana banyak anak-anak yang tidak diinginkan orang tuanya. Kalau aku mau, aku bisa mengasuh satu, dua atau bahkan tiga dari mereka. Jadi tolong, jelaskan kenapa aku harus menikah, mempertaruhkan diriku sendiri, mengambil risiko dilukai lahir dan atau batin. Tak ada kepastian sama sekali bahwa pernikahan itu akan bertahan sepanjang hidupku. Disamping itu, kalau pernikahan itu hancur di tengah jalan, aku akan jadi pihak yang paling besar menanggung kerugian. Kenapa, Dan? Untuk apa?”

Idan termenung agak lama. Akhirnya ia menjawab. “Cinta mungkin?”

“Kau terlalu banyak menonton film romantis ,” olokku. “Kau tahu berapa lama cinta bertahan dalam suatu pernikahan?”

“Berapa lama?”

“Satu sampai tiga bulan. Setelah itu, toleransi, kompromi, frustrasi dan imajinasi.”

“Imajinasi?”

“Kalau kau terjebak di dalam penjara dengan lelaki yang kau benci sekaligus yang kau tahu membencimu, kau harus membayangkan menikah dengan Richard Gere atau kau bisa jadi gila.”

“Astaga,” gumam Idan. “Kalau itu terjadi padaku, siapa menurutmu yang harus kubayangkan? Michelle Pfeiffer atau Nicole Kidman?”

“Gorila,” jawabku sekenanya dan Idan meledak tertawa.

“Idan,” keluhku. “Berhentilah tertawa. Aku bukan pelawak. Aku sedang membicarakan masalah serius, dan aku sebal kau tertawai terus menerus.”

Wajahnya serta-merta menjadi serius. “Aku tidak menertawaimu. Kalau kau benar-benar sahabatku, kau tahu beginilah aku menyikapi semua masalah, yang tergenting sekalipun. Termasuk soal menikah. Cobalah. Kau akan merasa jauh lebih baik. Kalau ibumu menanyakan calonmu sekali lagi, tertawalah.Tertawalah keras-keras.”

“Idan, kau benar-benar tak tertolong lagi,” gumamku. “Aku perlu solusi, dan bukan ide-ide konyol.”

Idan membisu. Dan untuk beberapa waktu kami berdua sama-sama merenung.

Akhirnya, Idan bicara dengan hati-hati. “Pit, aku tahu ini akan kedengaran gila. Tapi dengar dulu. Aku rasa saranku ini bisa menyelesaikan kedua masalahmu. Pertama, ketidakpercayaanmu pada ras laki-laki. Kedua, ketidakmengertianmu kenapa kau butuh seorang suami.”

Aku mengangguk, dalam hati bersiap-siap untuk mempertahankan mimik seriusku walaupun ide yang akan dilontarkan Idan nantinya ternyata kelewat sinting dan karenanya teramat sangat kocak.

“Sebelumnya, aku ingin tanya satu hal, dan ini sangat sangat penting, jadi aku perlu jawaban terjujurmu. Apa kau percaya kepadaku?”

Kutatap Idan dengan dahi berkerut. Ia telah jadi sahabatku selama puluhan tahun. Banyak yang berubah dalam hidupku, dan setidaknya enam lelaki telah hadir dan menghilang dari hidupku. Hanya Idan yang tak berganti. Ia seakan-akan selalu siap mengulurkan tangan menolongku, sementara sense of humor-nya tak pernah gagal membantuku keluar dari depresi yang paling parah sekalipun. Kalau ada satu laki-laki di dunia yang kuhadapi dengan skeptisisme nyaris nol, hanya Idan orangnya.”Ya. Aku percaya kepadamu.”

“Kalau begitu, percayalah bahwa yang kulakukan ini semata-mata untuk kebaikanmu. Percayalah bahwa aku sama sekali tidak memiliki niat jahat terselubung di balik ideku ini. Percayalah.”

“Idan! ” potongku tandas. “Ide apa?”

“Aku ingin mengajakmu mengadakan sebuah eksperimen,” ia bicara dengan hati-hati, kedua matanya terpan cang pada ekspresi wajahku. “Kita akan melakukan pernikahan.”

“Apa?”

“Simulasi!” lanjut Idan sesegera mungkin. “Tentu saja lengkap dengan semua formalitasnya, lamaran, akad nikah, kalau perlu honey moon….”

“Bulan madu?”

Idan mengangkat tangannya menyuruhku diam, “Simulasi. Sekali lagi, simulasi. Setelah itu kita akan menjadi suami istri –simulasi? sambil mempelajari kenapa kebanyakan manusia y ang normal dan waras begitu berambisi untuk berumah tangga. Kalau pada akhir eksperimen kau merasa yakin bahwa kerugiannya tidak sebanding dengan keuntungannya, kita bercerai dan kau bisa hidup lajang, merdeka selama-lamanya. Kalau ternyata kau kecanduan hidup sebagai istri, kita bercerai dan kau bisa cari suami yang paling cocok untukmu. Anggaplah ini Sebagai tes untuk melihat apa kau akan memilih menikah atau tidak. Tanpa komitmen, tanpa penalti. Bagaimana?”

“Idan,” desisku. “Ini ide terbodoh y ang pernah kudengar.”

“Semua gagasan jenius selalu diolok-olok pada awalnya,” sanggah Idan mantap.

“Pikirkan, Pit. Ini satu-satunya cara supaya kita bisa belajar seperti apa pernikahan itu sebenarnya tanpa perlu sungguh-sungguh menikah. Kau tidak mungkin melakukannya dengan laki-laki selain aku, yang telah terbukti memiliki sifat ksatria, dapat dipercaya dan teguh pendirian….”

“Serius, Idan, serius!”

“Dan kau sama sekali tidak melakukanpengor banan apa pun. Kau tidak akan mengalami kerugian apa pun.”

“Kecuali jutaan yang harus keluar untuk biaya pernikahan….”

“Simulasi,” Idan mengingatkan sambil mengangkat telunjuk.

“OK. Pernikahan simulasi,” geramku. “Dan aku akan menyandang status janda setelah kita bercerai.”

“Simulasi.”

“Idan!”

“Upit!”

“Oh, Tuhan,” aku bangkit dengan marah dan beranjak keluar. Idan segera menjejeriku.

“Upit, kau tidak perlu semarah ini,” katanya. “Apa aku sejelek itu di matamu hingga kau bahkan tidak mau pura-pura menikah denganku?”

Aku berhenti berjalan dan menatap wajahnya. Dan menggeleng.

“Biarpun wajahmu seperti bunglon sekalipun, aku akan tetap memujimu di depan perempuan malang manapun yang mencintaimu.”

Matanya berbinar. “Kau tidak marah lagi, kan?”

Aku menggeleng. “Aku bukan marah karena idemu, Dan. Aku tahu otakmu memang selalu korslet tiap kali memikirkan jalan ke luar dari suatu problem serius. Aku mengerti. Aku hanya kesal karena kau sepertinya tidak peduli dengan masalahku.”

“Justru karena aku sangat peduli aku mengusulkan ini, Pit,” ekspresinya tampak begitu tulus.

“Terima kasih. Tapi ide itu memuakkan.”

“Pikirkan ibumu, Pit. Kalau beliau tahu kau akan segera menikah, denganku, orang yang selama ini dikenalnya sangat baik, sopan, hormat kepada orang tua, ulet, tangguh…,” ia berhenti saat melihat raut wajahku, “Ibumu akan sangat bahagia, Pit. Pikirkan juga dirimu.”

Ia diam sejenak. “Aku janji akan menggandeng tanganmu di setiap pesta. Di mana pun.”

Ucapannya begitu menyentuh hatiku hingga aku nyaris menangis terharu. Kalau saja di antara bekas-bekas kekasihku ada yang mengatakan itu kepadaku, aku pasti sudah lama sekali menikah, pikirku sebelum menertawai diri sendiri. Perempuan yang tidak butuh seorang pelindung, tapi haus digandeng tangannya. Aku pasti sama kurang warasnya dengan Idan.

“Apa aku harus menciummu?” tanyaku nyaris berbisik.

“Sesekali mungkin, kalau orang tua kita diam-diam mengawasi,” matanya kembali tertawa. “Di pipi. Aku tidak akan melewati batas. Kalau kita hanya berdua, kau bebas untuk meninjuku, menjambakku….”

“Idan,” teguran itu lebih lembut daripada yang kuinginkan dan Idan tersenyum.

***

Suaranya bergetar. “Saya terima nikahnya Puspita Kirana binti Anwar Daud dengan mas kawin tersebut, tunai.”

Dan wajahnya kelihatan sedikit pucat. Berapa lama ia tidur semalam? Apa ia terjaga berjam-jam dalam gelap, memikirkan lelucon terbesarnya, seperti aku yang nyalang nyaris sepanjang malam tadi?

Ibuku meneteskan air mata sementara senyum lebar memenuhi wajahnya. Ibu Idan, walau menyaksikan dari kursi rodanya, juga tampak bahagia. Seharusnya aku juga bahagia hari ini. Idan juga. Mungkin dengan orang-orang lain. Tapi seharusnya aku merasa bahagia. Bukan diam-diam mencatat seperti seorang ilmuwan yang teliti: perasaanku, reaksi para tamu, wangi melati dan wajah Pak Penghulu.

Pak Penghulu menyuruhku menyalami suami baruku. (Simulasi, Upit, jangan lupa itu. Suami baru simulasi.) Tangannya dingin. Ekspresi wajahnya aneh, kedua matanya gemerlapan dengan rasa takjub, saat aku mendongak setelah mencium jemarinya. Ia mengecup dahiku dengan bibirnya yang yang nyaris putih. Lalu kami berdua duduk berdampingan mendengarkan petuah Pak Penghulu, Idan menunduk menatap pantalon putihnya dan mataku terpaku pada kain batikku.

Akhirnya kuberanikan diri untuk berbisik, “Kau pucat sekali.”

“Aku lapar. Tidak sarapan tadi pagi.”

“Terlalu nervous?”

“Telat bangun. Aku nonton bola sampai subuh.”

Aku tersenyum.

“Bagaimana aku tadi?” bisiknya.

“Meyakinkan. Berapa lama kau latihan?”

“Hanya waktu aku berpakaian tadi pagi. Catatan yang kau beri tercuci dengan celanaku.”

Ah, Idan, Idan. Menikah dengannya tidak akan pernah membosankan. Simulasi. Menikah simulasi dengannya tidak akan membosankan, koreksiku.

Pernikahan Simulasi [2]

Tiga hari pertamaku sebagai istri Idan –simulasi– kulewatkan di rumahku sendiri. Tiga hari berikutnya dilewatkan di rumah Idan, karena kondisi ibunya, yang memang telah sangat lama sakit, memburuk; mungkin karena ketegangan yang disebabkan persiapan acara pernikahanku dengan Idan.

Pada hari ketujuh kami pindah ke rumah milik Idan sendiri. Dan setelah seharian menata perabotan, memasang tirai dan beragam pajangan, malam itu kami lewati dengan tidur.

Esok paginya, aku terbangun karena mendengar suara-suara di dapur. Aku menemukan Idan di sana, sedang mendadar telur, sementara di atas meja terhidang nasi goreng dan sepoci kopi yang harumnya menggoda.

“Aku ada rapat pukul se tengah delapan,” seru Idan sambil membalik dadar telurnya. “Aku mesti berangkat sebelum setengah enam.”

Kucicipi nasi goreng buatannya. “Aku tidak tahu kau pintar memasak.”

“Pramuka,” komentar Idan ter senyum. Diletakkannya telur di atas meja dan ia duduk untuk sarapan. “Aku juga pandai tali-temali, semafor, menjahit.”

“Percaya, percaya. Kalau kau mau menangani urusan masak, aku akan memperbaiki keran dan genting bocor, plus membabat rumput.”

Idan terbahak. “Ini hanya sekali-sekali, Pit. Aku tidak mungkin masak setiap pagi.”

“Apalagi aku. Kita perlu cari pembantu.”

“Jangan,” Idan menggeleng. “Ia pasti curiga kalau melihat kita tidur di kamar berbeda.”

“Jadi?”

Idan menggaruk kepalanya. “Bisakah kau masak nasi tiap hari?” pintanya.

“Aku punya rice cooker.”

Kutatap wajahnya. Dalam hati aku berpikir, haruskah? Ini hanya sebuah permainan. Tidakkah Idan akan jadi besar kepala kalau aku mematuhinya? Tapi di lain pihak, kalau aku benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya jadi seorang istri, mungkin ada baiknya aku mengikuti keinginannya.

“Kalau kau mau membawakan lauk dan sayur bergantian denganku, baik.”

Ia tersenyum dan beranjak dari meja dan kembali dengan sebuah bolpoin merah. Dilingkarinya tanggal hari itu di kalender yang tergantung di dinding dapur.

“Hari pertama kita menyelesaikan suatu masalah dengan musyawarah keluarga,” katanya saat kembali ke kursinya.

“Masih banyak detil-detil seperti ini yang mesti kita sepakati,” lanjutnya. “Misalnya, aku ingin kau beri tahu aku kalau kau akan pulang terlambat.”

Dahiku berkerut. “Untuk apa?”

“Apa kau tidak melapor kepada orang tuamu kalau kau akan pulang terlambat?”

Aku menggeleng. “Ibuku sudah percaya bahwa aku bisa menjaga diriku sendiri dan tidak akan melakukan hal-hal yang bodoh.”

“Tapi aku suamimu. Simulasi memang. Aku perlu tahu kenapa dan di mana kau kalau pulang terlambat.”

“Kau kedengaran seperti diktator.”

“Kurasa aku tidak minta terlalu banyak.”

“Itu terlalu banyak untukku.”

Idan meletakkan sendoknya dan menatapku dengan mata menyala. Aku lupa kapan terakhir kali aku melihatnya marah. Tapi aku yakin aku tak salah membaca gelagatnya kali ini. Ia benar-benar marah.

“Ingat,” lanjutku hati-hati. “Aku bukan benar-benar istrimu. Kau tidak punya hak untuk mengaturku seperti itu.”

Ia menunduk lama sekali, tangannya terkepal, buku-buku jarinya memutih. Dan ruang makan itu menjadi sangat sunyi senyap. “Baik. Kalau itu maumu,” desisnya kemudian.

Kami melanjutkan sarapan dalam diam. Aku ingin mengatakan bahwa aku sama sekali tidak menduga permainan itu akan membuat persahabatanku dengan Idan memburuk. Tapi aku tak berani mengungkapkan itu. Aku yakin Idan akan semakin berang karenanya.

Idan meninggalkan meja tanpa mengatakan apa-apa dan pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap ke kantor. Tak lama ia kembali menemuiku di ruang makan.

“Aku pergi, Pit,” katanya dingin.

Aku bangkit dari meja menghampirinya, berniat untuk memperbaiki situasi. “Sebagian teman-temanku menyarankan ini,” ujarku sambil meraih tangan kanan Idan dan menempelkannya di bibirku. “Kupikir ada baiknya kucoba. Oh, ya. Mereka bilang kau harus mencium keningku.”

Ia membungkuk dan menyapu keningku dengan bibirnya yang terkatup dan berlalu tanpa mengucapkan apa-apa lagi.

Dasar tidak tahu terima kasih!

Aku sengaja pulang terlambat malam itu. Dalam perjalanan pulang kusinggahi suatu kafe yang belum pernah kukunjungi, sebagian untuk memperoleh kesendirian dan sebagian untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang pasti diberondongkan kawan-kawan yang biasa bersamaku menghabiskan sore hari.

Perasaanku gundah. Rasa bersalah dan kesal berkecamuk di dadaku. Aku tahu Idan telah banyak berkorban untuk permainan ini. Tapi walau aku sungguh-sungguh ingin mempelajari bagaimana rasanya menjadi seorang istri, mesti kuakui bahwa aku belum terbiasa menganggap Idan sebagai suamiku. Bagiku, ia hanya masih seorang sahabat. Dan seorang sahabat tidak boleh menuntut terlalu banyak.

Mataku tertaut pada cincin emas mungil yang disisipkan Idan di jari manisku selepas akad nikah. Ini hanya permainan, batinku. Tapi dalam permainan ini, Idan adalah suamiku. Dan sebagai suamiku, tuntutannya wajar. Kalau aku lantas tidak suka dengan keterbatasannya, itu hanya satu pelajaran pertama dari permainan ini. Kupejamkan mataku dan kutarik napas dalam-dalam. Aku benci kekalahan. Tapi kali ini aku mengalah, bukan kalah. Aku akan belajar satu hal dari semua ini. Bagaimana mengesampingkan keakuan dan memilih kebersamaan. Getir memang. Aku yakin Idan akan menertawaiku. Kalau ia tidak marah-marah dulu.

Alangkah terkejutnya aku mendapati rumah gelap dan kosong. Sudah pukul setengah dua belas malam dan Idan belum pulang?

Kucoba menghubungi ponselnya dan hanya mendapati mailbox. Dengan menggunakan berbagai tipu daya, memperhitungkan lemahnya kondisi ibu mertuaku, kutelepon rumahnya. Aku bahkan mencoba mengontak kantornya, tanpa hasil. Idan tidak ada di mana-mana.

Inikah balasannya atas penolakanku tadi pagi? Kekanak-kanakan sekali!

Tapi tak urung, dengan melarutnya malam, aku jadi semakin cemas. Apalagi hingga pagi Idan tidak kembali. Ia bahkan tidak pergi ke kantor. Aku minta izin pulang setengah jam lebih awal dengan dalih yang dibuat-buat.

Tapi saat aku tiba di rumah, Idan tetap tidak ada. Malam itu kulewatkan di sisi telepon, berpikir untuk menghubungi polisi dan rumah sakit. Pukul tiga telepon berdering. Bermacam-macam kengerian terlintas dibenakku saat aku mengangkat receiver.

“Upit?”

“Idan?” jeritku. “Kau di mana?”

“Pit, aku minta maaf karena marah dan minggat begitu saja. Boleh aku pulang?”

“Idan, ini rumahmu!” meskipun aku tersenyum, air mata kelegaan mulai meleleh di pipiku. “Kau di mana?”

“Di luar.”

“Di luar rumah?”

“Ya. Dan aku lapar.”

“Oh, Tuhan….”

Aku lari ke luar rumah. Di gerbang kulihat Idan berdiri di sisi mobilnya. Entah sudah berapa lama ia di sana.

“Kau keterlaluan! Aku sudah berpikir untuk menelepon kantor polisi!” teriakku kepadanya.

“Aku juga rindu kepadamu!” balas Idan tertawa. Dan mataku rasanya semakin perih melihat tawanya lagi.

“Di mana saja kau dua hari ini?”

“Di hotel kecil dekat kantor.”

Ia baru saja menghabiskan piring ketiga sop buntut kesukaannya. Ia tidak berkomentar ketika melihat bahwa aku sudah membeli semua makanan kegemarannya. Ia hanya makan dua kali lebih lahap. “Kenapa kau akhirnya memutuskan untuk pulang?” suaraku bergetar.

“Aku perlu baju bersih,” ia tertawa malu. “Laundri hotel mahal sekali.”

Saat ia mencuci piring makannya, dengan punggungnya ke arahku, ia menyambung, “Selain itu, aku khawatir karena kau sendirian di sini.” Dan dadaku tiba-tiba terasa ngilu.

“Aku akan pulang terlambat besok,” ucapku perlahan. “Aku harus lembur. Dikejar deadline.”

Ia berhenti membilas piring dan aku tahu ia berbalik menatapku. Tapi mataku terpaku pada es krim di hadapanku.

“Oke,” katanya. “Kau keberatan kalau aku makan malam duluan?”

“Asal kau sisakan cukup untukku,” aku tersenyum.

Paginya kulihat lingkaran merah kedua di kalender.

Aku bisa mentolerir kebiasaan Idan membiarkan koran yang telah dibacanya berserakan di ruang tamu. Aku bisa memaklumi kegemarannya nonton film action –genre yang paling tidak kuminati, dan sepak bola? olahraga yang menurutku amat membosankan. Aku bahkan bisa memaafkan kebiasaannyamengeluarkan pasta gigi dengan memencet bagian tengah tubenya, tidak dari bawah seperti yang biasa kulakukan.

Hanya satu yang aku belum sanggup terima. Caranya menghabiskan akhir pekannya. Setiap Minggu pagi ia berangkat sebelum pukul enam untuk bermain sepak bola dengan teman-temannya, dan sorenya, sekitar pukul setengah empat, ia pergi memancing.

Untukku yang selalu menghabiskan waktu luang dengan pergi dari satu galeri ke galeri lain, dari satu pameran lukisan ke yang lain, dari mal ke mal, dan berakhir dengan acara makan-makan, kebiasaan Idan itu sama sekali tidak bisa kupahami. Aku tak sanggup menontonnya main bola atau menemaninya memancing, karena aku dengan sangat cepat akan merasa jemu.

Sebulan pertama aku berusaha mengerti. Ia selalu pulang dengan mata berbinar hingga aku tak tega mengeluh dan protes. Tapi dipekan kelima kesabaranku tandas, dan pagi itu, saat ia tengah memasukkan botol air minum dan kotak rotinya ke dalam tas, aku memintanya untuk tidak memancing. “Temani aku jalan-jalan ke mal sore ini,” pintaku.

“Kau kan bisa pergi sendiri,” katanya sambil memasukkan kaus bersih dan handuk kecil.

“Seingatku kau berjanji untuk selalu menggandeng tanganku ke manapun.”

“Aku tidak bisa mangkir memancing hari ini, Pit,” ia masih tetap tak memandang ke arahku, sibuk dengan sepatu bolanya. “Aku sudah janji dengan kawan-kawanku untuk mencoba tempat memancing baru.”

“Kau bisa mencobanya minggu depan.”

“Tadi malam tidak ada bulan, Pit. Ikan-ikan akan sangat rakus hari ini,” ia tersenyum sambil melompat-lompat dengan sepatu bola barunya. “Aku bisa memecahkan rekor sepuluh kilo sore nanti!”

“Minggu depan voucher diskon salonku sudah tidak berlaku lagi,” gumamku.

“Pakai voucher dariku saja,” sahutnya ringan sambil mulai lari-lari di tempat. “Berapa diskon yang kau dapat dengan voucher itu? Kalau kuberi lima belas ribu cukup?”

“Idan! Itu hanya cukup untuk beli minum selama di salon.”

“Aku bisa cukur rambut plus dipijit plus minum kopi dengan lima belas ribu.”

“Oh, Tuhan!”

Idan berhenti berlari-lari dan berdiri di hadapanku dengan tangan di pinggang. “Pit, kau sudah cantik begini. Tidak perlu ke salon lagi.”

“Aku sudah cukup yakin dengan kecantikan, terima kasih. Yang aku butuh cuma keluar dari rutinitas harianku, dan aku memilih melakukannya dengan jalan-jalan.”

“Jadi? Apa yang kau tunggu? Pergilah. Aku tidak melarangmu. Kalau kau bawakan aku oleh-oleh, aku akan lebih tidak keberatan.”

“Ini bukan masalah kau melarang atau tidak, Dan. Apa enaknya jalan-jalan sendirian? Aku perlu teman.”

“Kalau begitu ajaklah teman-temanmu.”

“Sudah. Mereka punya acara sendiri-sendiri. Dengan suami-suami mereka.”

Idan mengerutkan keningnya. “Kau mau melewatkan hari Minggu denganku?”

“Ya!”

“Kenapa tidak bilang dari tadi. Tentu saja kau boleh ikut ke lapangan sepak bola lagi. Aku akan senang kalau kau ada di sana.”

“Idan!” jeritku. “Kau ini buta, tuli atau imbesil sih? Kau tahu aku benci sepak bola dan lebih benci lagi memancing!”

Mata Idan menyipit. “Dan kau tahu aku alergi jalan-jalan ke mal,” desisnya.

“Kupikir sudah waktunya kau mengalah sekali-sekali.”

“Mengalah!” suaranya meninggi. “Apa aku masih kurang mengalah selama ini? Pit, kau sudah menyita enam kali dua puluh empat jam waktuku, apa kau tidak bisa memberiku….”

“Enam kali dua puluh empat? Enam kali dua! Kita hanya benar-benar bertemu dan bicara satu jam saat sarapan dan satu jam waktu makan malam!”

“Kita bisa mengobrol lebih banyak kalau kau mau lebih banyak melewatkan waktu denganku! Tapi tidak! Kau lebih memilih mengurung diri di kamar dengan Pavarotti dan Flamingo….”

“Placido Domingo! Maaf, Dan, waktuku terlalu berharga untuk dipakai menyaksikan orang-orang saling membunuh tiap dua menit atau dua puluh dua orang memperebutkan satu bola kulit!”

“Setidak-tidaknya itu lebih jujur dan bisa dimengerti dari film-filmmu yang becek air mata itu!”

“Kau kekanak-kanakan!”

“Dan kau, Tuan Putri, kau egois!”

Ia menyambar tasnya dan melangkah lebar-lebar keluar lewat pintu samping.

Aku masuk ke ruang makan dan membanting pintu di belakangku. Seperti inikah perasaan para istri setelah bertengkar dengan suaminya? Dadaku sesak dan kepalaku sakit. Aku benci menjadi cengeng, tapi air mata kecewa mulai membuat mataku pedih. Aku sama sekali tidak mengira sesuatu seperti ini terjadi padaku. Aku tahu Idan melakukan semua ini, simulasi ini, untukku, tapi selama ini aku tidak pernah menuntut apa pun darinya.

Sebaliknya, aku telah berkorban banyak sekali sejak aku menikah –simulasi– dengannya, mengurangi jadwal clubbing-ku, pulang dari kantor sesegera mungkin, memperhitungkan apa ia akan menyukai makanan yang kubeli. Apa ia telah berbuat sama banyaknya untukku ? Tidak!

Kubuka lemari es dan kukeluarkan satu kotak es krim cokelat kesukaanku. Pagi itu kulewatkan di depan televisi, menyaksikan film melankolis, air mataku kubiarkan meleleh tanpa henti, dan sekotak es krim itu pun habis tanpa terasa.

Idan kembali pukul setengah sebelas, masih cemberut. Ia langsung mandi dan tak lama kemudian kembali ke ruang duduk sudah rapi dengan t-shirt dan celana jins.

“Kalau kau mau ke mal, aku sarankan kau mandi dan dandan sedikit,”katanya.

“Aku tidak mau pergi ke mal.”

“Kau bilang tadi pagi….”

“Aku tidak mau merepotkanmu. Aku tidak mau kau gatal-gatal karena alergimu kumat.”

“Upit, kalau kita tidak pergi sekarang, kita bisa pulang terlalu sore. Aku ada janji jam empat….”

“Aku bilang aku tidak mau ke mal! Kau bisa pergi memancing sekarang kalau kau mau.”

“Jangan seperti anak kecil begini, Pit,” geramnya. “Ayo!”

“Tidak! Dan kalau kau marah dan mau minggat seperti dulu lagi, silakan!”

Pernikahan Simulasi [3]

Wajah Idan benar-benar merah sekarang. “Upit! Jangan main-main denganku! Aku tidak mau kau menolak pergi jalan-jalan lalu menghukumku dengan cemberut sepanjang hari begini. Mandi sekarang. Kita pergi setengah jam lagi.”

“Aku bukan budakmu. Jangan suruh-suruh aku. Dan aku tetap tak mau pergi.”

“Oke. Terserah! Kalau kau mau duduk di sini seharian, makan es krim dan cokelat sambil mengasihani diri sendiri dan melar dan melar dan melar dan melar….”

“Idan!” jeritku sambil melempar kotak es krim itu ke arahnya. Ia terlambat mengelak dan sisa es krim yang telah mencair melumuri t-shirtnya.

Aku lari ke kamarku, membanting pintunya dan melempar diri ke ranjang, sesenggukan. Kudengar ia memaki dan menendang pintu. Saat itu aku takut, takut sekali. Ia seperti telah menjadi manusia lain yang tak kukenali sama sekali, asing dan mengerikan. Kututup telingaku dengan bantal dan aku terus menangis hingga tenggorokanku yang sakit dan kepalaku yang berat memaksaku tertidur kelelahan.

Sorenya aku keluar mengendap-endap. Idan pasti telah pergi memancing. Memikirkan bahwa ia pergi sementara aku masih menangis karena kata-kata kasarnya membuatku makin marah kepadanya. Kali ini aku yakin tak ada pilihan lain kecuali meninggalkannya dan kembali ke rumah orang tuaku. Maka selesai mandi aku segera memasukkan semua pakaianku ke dalam kopor.

Saat itu Idan datang. Ia kedengaran sangat gembira, bersiul-siul sejak ia memasuki pintu gerbang. Siulannya berhenti saat ia melihat koporku dari pintu kamar yang terkuak.

“Apa-apaan ini, Pit? ” tanyanya.

“Aku pulang ke rumah Ibu.”

Ia masuk dan duduk di atas kasurku, mengawasi gerak-gerikku. “Semudah ini kau menyerah?”

“Ini diluar dugaanku.”

“Apa?”

“Aku tidak mengira aku menikahi monster.”

Idan terdiam, menunduk.

“Aku…,” katanya lirih. “Aku bawa pizza kesukaanmu.”

“Aku sudah terlalu gemuk.”

Ia menggeleng dengan ekspresi bersalah, “Tidak. Kau cantik.”

“Aku tidak butuh pendapatmu. Kau bukan suamiku, ingat? Penilaianmu tidak punya arti apa-apa.”

“Aku sudah mencoba jadi suami yang baik.”

“Kau gagal.”

“Setidaknya aku mencoba. Kau… kau tidak melakukan apapun supaya pernikahan kita berhasil….”

“Simulasi.”

Ia menghela napas panjang dan mengangguk singkat. “Simulasi.”

“Kau salah, Dan. Aku sudah melakukan terlalu banyak. Sudah belajar terlalu banyak. Dan aku sudah mengambil keputusan. Aku tidak akan menikah. Aku tidak suka menikah. Apalagi denganmu.”

Ia tak mengatakan apa-apa, lama sekali. Ketika ia keluar dari kamarku, aku ambruk ke atas tempat tidur. Semua topeng ketegaranku hancur berkeping-keping. Aku tak pernah menduga Idan bisa menyakitiku sehebat ini. Lama kemudian. setelah aku bisa sedikit menguasai diri, aku bangkit. Kurapikan dandananku dan kuseret koporku keluar.

“Setidaknya tunggulah sampai hujan reda,” suara Idan menyambutku.

“Terlalu lama,” gumamku. “Aku tidak bisa tinggal denganmu selama itu.”

Aku tak peduli hujan yang serta merta meng guyurku basah kuyup Saat aku membuka pintu gerbang. Meninggalkan Idan secepatnya, hanya itu yang ada di benakku. Dan ketika mobilku mulai tersendat terendam genangan air hujan hanya lima puluh meter dari rumah, aku begitu berang dan putus asa hingga aku keluar dari mobil dan menendang pintunya, meninju atapnya, air mataku larut dalam siraman hujan.

Saat itu aku melihat Idan datang. Tanpa mengatakan apa-apa ia mencabut kunci mobilku dan mengunci mobil itu dari luar.

“Ayo pulang,” katanya.

Aku menggeleng tanpa berani menatap wajahnya.

Dan ia mengangkatku, menggendongku, tanpa menghiraukan perlawananku. Ia membopongku sampai ke rumah, tak memberiku kesempatan untuk melarikan diri.

Setiba di dalam, ia mengunci pintu dan menyimpan kuncinya di saku.

“Ganti bajumu,” katanya.

“Semua bajuku di dalam kopor.”

“Ambil bajuku.”

“Tidak akan pernah!”

Ia mencengkeram pergelangan tanganku dan menatapku lurus dengan mata berkobar, “Ini bukan waktunya melawanku, Pit. Kau bisa sakit!”

“Monster,” desisku.

Malam itu suhu tubuhku menanjak naik, kepalaku sakit dan tenggorokan nyeri. Aku masih ingat saat Idan menyuruhku menelan sebutir tablet penurun panas dan aku membangkang. Ketika abangku datang untuk memeriksa keadaanku, aku masih bisa menangis dan merengek minta diantar pulang ke rumah orang tuaku.

Setelah itu semuanya kabur. Kesadaranku kembali dalam kelebatan-kelebatan singkat. Ketika aku terjaga dan menemukan Idan tengah mengganti kain kompres di dahiku, sentuhannya begitu sejuk dan menenteramkan. Ketika aku tiba-tiba tersentak dari salah satu mimpi burukku dan mendapati Idan tengah membersihkan ceceran muntahku di lantai. Ketika aku terbangun dari tidurku yang gelisah dan merasakan tangannya erat menggenggam jemariku.

Hingga akhirnya, entah setelah berapa lama, aku terbangun dan nyala api dalam kepala dan dadaku telah padam. Jendela kamarku terbuka dan cahaya matahari hangat menerobos masuk, membawa aroma melati dari rumpun di luar kamarku. Ibuku tengah duduk di dekat jendela, membaca.

“Ibu.”

Ibuku menurunkan korannya. Senyumnya mengembang saat ia menghampiriku. “Bagaimana? Sudah enakan?”

“Idan mana?” bisikku.

Ah, pertanyaan bodoh. Mungkin seharusnya aku bertanya dimana aku sekarang atau setidak-tidaknya siapa namaku. Kenapa pertanyaan pertamaku harus tentang Idan? rutukku pada diri sendiri.

“Masih di kantor. Sebentar lagi juga pulang.”

Aku sakit dan dia pergi ke kantor. Suami teladan.

“Ibu sudah berapa lama di sini?”

“Dari pagi. Kau tidak ingat ibu datang pagi tadi?”

Aku mencoba menggeleng dan kepalaku serta merta terbelah tiga. Tapi yang paling menyakitkanku adalah, Idan sama sekali tak peduli aku sakit. Aku berbalik dan memejamkan mata. Air mataku yang panas luruh satu-satu.

Sore itu ketika Idan pulang, aku berpura-pura tidur. Aku sama sekali belum siap untuk bicara lagi dengannya.

“Bagaimana, Bu?” tanyanya, suaranya mendekati tempat tidurku. Dan kemudian tangannya hinggap di dahiku, sejuk dan membawa ketenangan. Dengan punggung tangannya ia menyentuh leherku, dan kalaupun aku sanggup menepiskan tangannya dengan tenagaku yang nyaris nihil, aku tak akan mau melakukannya.

“Tadi bangun sebentar, menanyakan kamu. Lalu tidur lagi. Tapi panasnya sudah turun dan tadi siang sudah mau minum susu.”

Tangan Idan berpindah ke bahuku dan mulai memijat dengan lembut. Jangan berhenti, jangan berhenti, jangan berhenti, pintaku dalam hati. Tapi ia bangkit dan merapikan selimutku sambil terus bicara dengan ibuku.

“Kalau Ibu capai, Ibu bisa ambil cuti besok.”

Ibu tertawa kecil. “Kau sendiri? Kau tidak tidur entah berapa malam dan kau mengerjakan semuanya. Mencuci, membersihkan rumah, mengurus Upit. Apa kau tidak capai?”

“Saya pakai baterai Energizer, Bu.”

Ibu tertawa lagi, “Idan, Idan. Kau mesti istirahat juga. Kalau kau sakit, Ibu tidak yakin Upit bisa mengurusmu sesabar kau merawat dia.”

Ibu! Idan itu hanya menantu Ibu! Cuma simulasi pula!

“Sudah tanggung jawab saya, Bu.”

Alangkah klisenya!

Sunyi. “Kau betul-betul tidak butuh bantuan Ibu?”

“Terima kasih. Kalau ada apa-apa, saya pasti telepon Ibu lagi.”

“Baik kalau begitu. Kau tinggal menyuapinya nanti malam, jangan lupa obatnya. Kalau ia mau, ibu sudah masak bubur di dapur. Kalau tidak, beri saja apa yang dia mau.”

“Ya, Bu.”

“Dan jangan tidak tidur lagi nanti malam. Upit sudah baikan.”

“Baik, Bu.”

Dan saat itu juga aku bersumpah akan membuat malam itu mimpi buruk untuknya.

Aku ingin menghukumnya karena kata-katanya yang menyakiti perasaanku. Aku ingin menghukumnya karena ia melukai harga diriku. Dan aku ingin menghukumnya karena ia membuatku benci pada diriku sendiri. Ia yang membuatku sakit dan entah berapa lama tak berdaya, bahkan terpaksa membiarkannya mengurusku seperti bayi.

Ia harus membayar untuk semua penghinaan itu. Aku benci, sangat benci padanya. Aku membuat segalanya sangat sulit untuk Idan malam itu. Aku memberontak saat ia mencoba menyuapiku. Aku menolak saat ia memintaku makan obat.

Aku memintanya membuka jendela karena aku kepanasan, lalu menutupnya lagi, karena aku kedinginan, lalu membuka lagi, menutup lagi entah berapa belas kali. Aku memintanya membuatkanku susu yang tidak kuminum, merebuskan mi instan yang tidak kumakan, menyiapkan roti yang kubuang kelantai, mengupaskan apel yang kubiarkan di meja hingga berubah coklat dan memasakkan omelet yang hanya kucuil sedikit. Pijatannya dikakiku terlalu keras, terlalu lembek, terlalu kasar, tidak terasa. Dan saat ia mulai terkantuk-kantuk di kursi, aku membangunkannya untuk menyalakan televisi agar aku bisa menyuruhnya mengganti saluran tiap kali ia mulai mengangguk terlelap.

Semua itu akan membuatku sangat puas kalau saja Idan mau menolak, memprotes, mengeluh, atau bahkan marah dan memakiku seperti dulu. Tapi ia sama sekali tidak mengeluh, tidak membantah. Kesabarannya merusak segalanya. Makin lama aku makin menyadari kelembutan dalam suaranya ? yang hanya bisa lahir dari kekhawatiran — dan kelelahan di matanya ? yang aku tahu hanya bisa datang dari keputusasaan.

Aku dibuatnya merasa bersalah, karena aku sadar ia juga tengah menyalahkan dirinya sendiri, menghukum dirinya sendiri, mungkin lebih berat dari yang kulakukan. Dan kebencianku justru musnah dan berganti kasihan, sesuatu yang sama sekali tak kuharapkan, tapi tak bisa kuelakkan.

Menjelang fajar, saat mengawasinya tertidur meringkuk di kursi, aku mengingat lagi pertengkaran yang menerbitkan kebencian itu. Aku mengulang lagi setiap kalimat yang kuucapkan, dan aku tiba-tiba merasa malu. Kenapa semuanya harus terjadi hanya karena sesuatu seremeh itu. Selama dua puluh tahun persahabatanku dengan Idan, hobi dan kegemarannya tak pernah membuatku merasa terganggu. Masih banyak hal lain yang menyenangkan darinya. Kenapa aku sampai bisa melupakan itu dan membiarkan kemarahan sesaat membutakanku?

Aku tahu permintaanku wajar. Aku tahu aku berhak meminta Idan menemaniku ke mana pun. Dan ia juga sama bersalahnya denganku karena mengobarkan pertengkaran konyol itu. Hanya saja ia lebih berbesar hati untukmenyingkirkan pertengkaran itu sementara aku justru memupuk dendam dan benci padanya. Jadi siapa sebenarnya pemenang dalam kontes kedewasaan ini?

Ketika aku terbangun esok paginya, Idan menyambutku dengan baki sarapan pagi dan senyum lebar. Ia membantuku ke kamar mandi dan aku tidak memprotes ketika ia memintaku untuk tidak mengunci pintu. Ia telah menyediakan bangku di dekat wastafel agar aku tak perlu berdiri saat menggosok gigi. Di rak ia telah menyediakan pakaian bersih untukku dan bahkan meletakkan bedak dan sisirku, hingga saat aku keluar dari kamar mandi, aku merasa jauh lebih segar dan hidup.

Ketika aku kembali ke kamar, aku melihat spreiku telah diganti, mejaku telah rapi kembali dan bunga di dalam vas di dekat tempat tidurku telah diganti dengan yang baru. Ketika Idan duduk di pinggir ranjangku, menambahkan gula pada susu cokelatku dan mengupaskan telur sarapan pagiku, aku hampir menangis karena terharu.

“Kau tidak ke kantor? ” tanyaku mencoba membuka percakapan; kata-kata ramah pertama yang kuucapkan padanya setelah pertengkaran kami.

“Ini hari Minggu, Pit.”

“Aku sudah sakit selama seminggu ?” bisikku tak percaya.

“Ya,” Idan tersenyum. “Tapi aku senang kau sudah sembuh sekarang. Aku tidak bisa tenang di kantor memikirkanmu.”

“Ibuku kan di sini.”

“Ya. Aku terpaksa memintanya datang. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaanku minggu lalu. Maaf.”

Aku menunduk, bersembunyi dari ketulusan di matanya. Kulirik jam di atas mejaku. Pukul setengah delapan pagi. “Tidak main bola?”

Ia menggeleng sambil mengolesi sepotong roti lagi dengan selai nenas. “Aku mau memberi kesempatan pada Agus. Sudah dua bulan dia cuma duduk di bangku cadangan.”

Aku tersenyum.

“Dia kurang berani menyerang. Tidak segesit aku. Maklum sudah agak gemuk. Tapi, siapa tahu,” ia mengangkat bahu dan tersenyum.

“Kau mau pergi memancing nanti sore?”

Ia menggeleng lagi.

“Kenapa?”

“Aku harus memberi kesempatan ikan-ikan itu berkembang biak, Pit. Kalau kutangkapi terus, mereka bisa punah.”

“Kalau kau memancing lagi, tolong sampaikan terima kasihku kepada mereka, ya.”

“Terima kasih untuk apa?”

Untuk menunjukkan sisi lain dari Idan yang tidak kuketahui sebelumnya, batinku. Tapi yang keluar dari mulutku adalah, “Karena meminjamkanmu untukku hari ini.”

Senyum Idan serta merta surut. Diulurkannya tangannya dan disentuhnya lenganku. “Lain kali kalau kau ingin kuantar ke manapun, bisakah kau bilang minimal sehari sebelumnya? Bukannya aku tidak mau, tapi kalau aku sudah berjanji dengan teman-temanku, aku tidak bisa begitu saja membatalkannya kan?”

Aku mengangguk dengan leher tersumbat.

“Aku juga janji tidak akan sering nonton film action lagi,” katanya kemudian.

“Kita memang perlu ngobrol lebih sering. Jangan menangis, Pit Nanti air jerukmu asin.”

———–

“Selamat ulang tahun, Pit.”

Aku terlonjak duduk dan menyalakan lampu. “Idan! Untuk apa kau sepagi ini di kamarku!”

“Memberimu selamat ulang tahun,” jawabnya polos. Dan ia bangkit dari kursinya di sisi tempat tidur dan menarikku hingga berdiri.

“Ayo! Aku mau menunjukkan hadiah ulang tahunmu dariku!”

Ia menyeretku ke ruang kerja dan menyuruhku duduk di depan komputerku. Ada dua komputer di ruangan itu, satu milik Idan, yang sarat dengan berbagai programming software yang digunakannya untuk bekerja. Dan satu lagi milikku, lebih sederhana dan tidak secanggih milik Idan.

Idan menyalakan komputerku dan duduk di sebelahku dengan mata berbinar. Sambil tersenyum geli, aku mencoba menebak apa yang telah disiapkan Idan untukku. Puisi? Personal website, dengan foto dan lagu? Aku menggeleng dalam hati, Idan tidak cukup romantis untuk itu.

“Kau lihat?” Idan memotong renunganku.

“Apa?”

“Hadiahku.”

Keningku berkerut. Tidak ada yang berbeda dengan tampilan komputer itu. Dengan ragu kuraih mouse dan mengklik tombol Start. Tidak ada yang berubah. Tapi Idan kentara sekali menjadi semakin antusias. Setelah membuka file-file-ku dan sekali lagi tidak menemukan apa pun, aku berpaling kepada Idan dengan ekspresi tak berdaya.

“Kau tidak menemukannya?” tanya Idan, dengan setitik kecewa dalam suaranya.

Aku menggeleng.

“Aku menambah memori komputermu,” akunya kemudian. Dan melihat raut wajahku yang tak berubah, menambah.

“Komputermu sekarang bisa bekerja lebih cepat.”

Aku ingin sekali berbagi kegembiraannya. Ia kelihatan begitu bangga dengan hadiahnya, setidaknya beberapa detik yang lalu, sebelum ia sadar bahwa aku kecewa.

“Oh,” hanya itu yang bisa kukatakan. “Terima kasih.”

“Kau boleh memelukku kalau mau,” katanya tersenyum dan membentangkan kedua tangannya. Kupukul lengannya dan tertawa. Dan pagi itu berlalu seperti hari-hari kemarin.

Di kantor teman-temanku menyambutku dengan ucapan selamat dan senyum pernuh arti. Ketika aku memasuki ruang kerjaku, aku mengerti kenapa mereka tampak seperti menyembunyikan sesuatu. Di meja kerjaku ada sebuah kotak panjang dengan tutup selofan. Setangkai mawar putih. Sesaat jantungku rasanya berhenti berdenyut.

Hati-hati kuambil kartu yang menempel pada kotak itu, lupa seketika kepada teman-temanku yang pasti mengawasi lewat kaca ruang kerjaku.

Selamat ulang tahun. Masih ingatkah kau kepadaku? Jika ya, aku menunggu di tempat biasa. Mungkinkah?

Aku keluar untuk makan siang lebih awal, mengabaikan godaan teman-temanku yang tak kenal ampun.

Pernikahan Simulasi [4]

“Kita tidak bisa bertemu lagi Pram,” ujarku kepada Pram di telepon. Separuh jiwaku rasanya terbang dan hilang saat kata-kata itu kuucapkan.

“Kenapa? Idan melarangmu?”

“Dia tidak tahu apa-apa.”

“Kenapa kau terus memikirkan dia, Ta. Pikirkan dirimu sendiri. Apa kau sudi menghabiskan hidupmu dengan orang yang tidak kau cintai, sedangkan denganku kau bisa mendapatkan semuanya?”

Kugigit bibir ku saat setetes air bergulir di pipiku.

“Ita, akuilah. Aku menemukan separuh hatiku kepadamu dan hidupmu baru akan lengkap denganku. Selama ini, aku sendirian dan kau dengan Idan, hidup kita hanya mimpi, cacat, timpang. Dan kita baru akan memulai hidup, setelah kita bersama. Saat ini kau tidak punya apa-apa, Ta, tidak juga masa depan, tapi berdua, kita akan miliki segalanya….”

“Hentikan,” potongku dengan suara bergetar.

“Kalau kau minta aku untuk berhenti berusaha mendapatkanmu lagi, kau hanya buang-buang waktu dan tenaga. Kau tahu aku tidak semudah itu disuruh mundur. Ini menyangkut sisa hidup ku dan hidupmu. Tidak ada yang lebih penting dari itu dan aku tidak akan berhenti sampai kau kembali denganku.”

“Aku tidak bisa….”

“Kenapa tidak?”

Ya, kenapa tidak. Pernikahan ini hanya sebuah permainan. Menyenangkan memang. Tapi tetap hanya sekadar sandiwara. Tapi kenapa rasanya berat sekali memutuskannya?

“Kau tidak mencintai Idan, Ta. Kau berbeda dengannya, jadi bukan kesalahanmu kalau kau tidak bisa mencinta inya. Satu-satunya perasaan yang layak kau simpan untuknya cuma iba, karena ia tidak akan pernah bisa mendapatkan hatimu dan ia akan selamanya menikah dengan perempuan yang mencintai lelaki lain.”

“Aku….”

“Akuilah, Ta, kau mencintaiku. Kebersamaan kita adalah takdir.”

Kututup mikrofon dengan tanganku dan menghela napas panjang. Seluruh tubuhku rasanya terbakar dan lunglai dan dunia seperti berputar makincepat. Kupejamkan mataku.

“Aku tidak mencintaimu,” gumamku.

“Lebih keras lagi.”

“Aku tidak mencintaimu.”

“Kau berbohong.”

Lama sekali aku terdiam sebelum akhirnya sanggup mengucapkan, “Ya.”

“Ita,” suara Pram gemetar. “Aku berjanji untuk selalu membuatmu bahagia.”

Aku tahu sejak awal bahwa permainanku dengan Idan akan berakhir, cepat atau lambat. Tapi hatiku tetap enggan berdamai dengan kenyataan bahwa aku harus bicara padanya tentang perpisahan. Aku sadar bahwa Idan sendiri tidak berhak dan tidak mungkin menghentikanku. Bahkan, mungkin ia akan merasa lega dengan keputusanku itu, karena akhirnya ia bisa membenahi hidupnya sendiri lagi.

Mustahil ia akan menolak berpisah denganku. Apalagi, aku juga tahu ia sangat menyayangiku dan ingin aku bahagia. Dan aku tahu, keputusan untuk kembali kepada Pram adalah yang terbaik untukku dan masa depanku, sesuatu yang pasti akan didukung oleh Idan. Aku yakin keputusanku itu tidak merugikan siapa pun. Kenapa aku harus segan menyampaikannya pada Idan? Mula-mula aku berjanji kepada diriku sendiri untuk mencari waktu yang tepat.

Tapi saat itu tak pernah datang. Setiap kali, aku dilanda keraguan dan akhirnya membatalkan niatku. Pram tidak bisa mengerti itu.

“Aku ingin kita menikah sebelum aku kembali ke Jerman, Ta. Dan kau harus menempuh masa idahmu dulu. Belum lagi kita harus memikirkan pendapat orang lain yang pasti berkomentar kalau kau menikah denganku segera setelah masa idahmu selesai. Dan aku hanya di sini sepuluh bulan lagi.”

“Aku tahu. Aku juga berpikir begitu. Tapi… Entahlah.”

“Apa kau tidak yakin aku akan membuatmu bahagia?”

“Aku….” aku tergagap dan menggeleng.

“Jadi, bicaralah dengan Idan.”

Sore itu, aku pulang dengan hati berat. Aku sudah bertekad untuk bicara dengan Idan malam itu juga. Aku tak akan menundanya lagi. Begitu aku tiba di rumah, Idan sudah menungguku di teras. Matanya berbinar dan wajahnya berseri saat aku mendekati teras, hingga aku jadi berpikir, ada apa sebenarnya.

“Kenapa kau sudah di rumah?” tanyaku.

Idan menyilangkan telunjuknya di depan bibir dan menggandeng tanganku ke dalam rumah.

“Ada apa?”

“Sst!”

Ia membawaku ke serambi samping. Dengan bangga dikembangkannya tangannya. Di sana ada sebuah ayunan rotan berwarna putih, cukup lebar untuk tiga orang, dengan bantal-bantal yang kelihatan sangat mengundang, berwarna hijau dengan gambar… mawar putih?

“Ini hadiah ulang tahun pertama perkawinan kita,” katanya.

Mataku beralih cepat dari ayunan rotan itu. Wajah Idan benar-benar sumringah. Di matanya ada sekelumit keheranan melihat wajahku yang pasti telah berubah warna.

“Aku… aku tidak punya hadiah apa-apa,” gumamku sambil kembali menatap ayunan itu, menyembunyikan kalutku. “Aku lupa….”

Idan tertawa. “Kau bahkan tidak ingat ulang tahunmu sendiri,” katanya.

Ia duduk diayunan itu. “Ayo,” katanya sambil menarik tanganku.

Aku duduk disampingnya, tak tahu mesti mengatakan apa. Aku benar-benar tidak ingat bahwa setahun lalu hari itu, aku dan Idan menikah, simulasi. Kenapa Idan harus menganggap hari itu demikian istimewa sementara aku sendiri sama sekali tak mengingatnya?

Idan mulai berayun-ayun pelan sambil menggenggam tanganku. Ia sedang menceritakan sebuah kejadian lucu di kantornya, tapi aku sama sekali tak mendengarkan. Di kepalaku berdenging ribuan kata-kata yang akan segera kuucapkan padanya. Aku telah berlatih dalam hati untuk mengutarakan segalanya, tegas dan jelas. Tapi sekarang, semua ketetapan hati yang telah kubangun runtuh berserpihan.

“Pit, kau tidak menyimak kata-kata Pak Guru, anak nakal,” teguran Idan membuyarkan renunganku.

“Ada apa?”

Kutatap matanya. “Dan, Pram pulang.”

Dahinya berkerut. “Pram?”

“Pacarku yang pergi ke Jerman.”

“Oh,” ia mengangguk. “Kapan?”

“Sebulan lalu, waktu aku ulang tahun.”

Ia mengangguk lagi. Aku tak bisa mengucapkan apa-apa setelah itu. “Dia sudah menikah?” tanya Idan, seperti mendorongku bicara.

Aku menggeleng.

“Lalu?”

“Dia ingin menikah denganku,” ujarku cepat-cepat, tanpa memandang wajahnya. “Ia hanya di sini sepuluh bulan lagi. Karena itu, aku ingin kita segera bercerai.”

“Oh.”

Idan tak mengatakan apapun selama beberapa saat. Pertanyaan berikutnya ia ajukan dengan ringan, seolah-olah sambil lalu, “Kau yakin ia mencintaimu?”

Aku mengangguk.

“Kau yakin akan bahagia dengannya?”

Sekali lagi aku hanya mengangguk.

“Kalau begitu, selamat,” ketulusannya terdengar hangat. “Aku ikut bahagia.”

Kuberanikan diri untuk menatap wajahnya. Dan aku tidak menemukan setitik pun kekecewaan di sana. Rasa lega meruahi hatiku.

Idan bertanya beberapa hal tentang Pram dan semuanya kujawab dengan antusiasme gadis belasan tahun yang mabuk asmara. Tapi setelah beberapa waktu, aku sadar kalau ia tidak sungguh-sungguh memperhatikan ceritaku.

“Dan?” tegurku.

“Ya?”

“Kau tidak mendengarkan. Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Aku sedang berpikir, gadis mana yang bisa kuajak selingkuh, supaya kau punya alasan untuk bercerai denganku.”

***

Malam itu aku terbangun saat Idan mengguncang bahuku.

“Pit, bangun!”

“Ada apa?” gumamku.

Jam alarm di sisi ranjangku baru menunjukkan pukul tiga lima belas dini hari.

“Ganti baju cepat, kita mesti ke rumah sekarang. Mama meninggal.”

Aku terlonjak duduk. “Apa?”

“Ganti baju,” perintah Idan sambil meninggalkan kamarku.

Aku terpaku sejenak sebelum akhirnya lari mengejar. “Kapan.”

“Baru saja.”

“Di?”

“Rumah. Ganti bajumu. Kita berangkat lima menit lagi.”

“Idan….”

Ia membanting pintu kamar di depanku.

Aku kembali ke kamarku dan bergegas mengganti piyamaku dengan baju yang pantas. Ketika aku keluar, semua lampu belum menyala dan pintu depan masih tertutup. Juga pintu kamar Idan. Kuketuk pintu itu perlahan.

“Dan, aku sudah siap.”

Tidak ada jawaban.

Aku menyelinap masuk. Kamar Idan gelap, tapi dengan cahaya samar lampu taman aku bisa melihatnya meringkuk di sudut, wajahnya tersembunyi dibalik kedua tangannya. Ia menepis tanganku, bahkan mendorongku terjungkal saat aku menyentuh bahunya. Tapi ketika untuk ketiga kalinya kuulurkan tanganku, ia tidak lagi menghindar, dan dalam rangkulanku ia menangis.

Hanya saat itu Idan tidak bisa mengontrol emosinya. Setelah itu ia kembali menjadi Idan yang rasional dan berkepala dingin, yang mengurus pemakaman, menerima para tamu dan menghibur keempat kakak perempuannya dengan ketenangan yang nyaris mengerikan.

***

Sore harinya, saat aku tengah membantu merapikan kembali ruang tamu, kakak tertua Idan, Kak Ira, menghampiriku.

“Pit, bawa Idan pulang.”

“Apa tidak sebaiknya dia di sini dulu, Kak?”

Kak Ira menggeleng. “Coba lihat sendiri,” katanya sambil menunjuk ke halaman belakang.

Idan kutemukan di sana, sedang mengisap sebatang rokok. Ia sudah tujuh belas tahun berhenti merokok dan melihatnya kembali pada kebiasaan itu membuatku sadar ia sedang bergelut dengan kepedihan yang lebih dalam dari yang ditunjukkannya.

Ketika aku mendekat, kulihat asbak di sampingnya telah penuh dengan puntung rokok dan kotak di atas meja tinggal berisi sebatang. Kucabut rokok itu dari antara jemarinya dan kubunuh di asbak. Idan tidak memprotes, ia bahkan tidak menatapku. Aku sadar Kak Ira memang benar. Aku harus segera membawa Idan jauh-jauh dari semua kenangan tentang ibunya.

“Aku mau pulang, Dan, ” ujarku sambil memegang tangannya. Ia menggeleng pelan.

“Aku akan menginap di sini. Kau pulanglah sendiri. Besok aku pulang naik bus saja.”

“Aku tidak mau sendirian di rumah.”

Idan menghela napas berat dan akhirnya bangkit. Ia berpamitan kepada kakak dan iparnya dan keluar untuk mengambil mobil. Saat itu Kak Ira menggamit tanganku dan berbisik, “Aku senang Idan sudah menikah denganmu. Kau pasti bisa menghiburnya dalam saat-saat seperti ini. Ia paling merasa kehilangan dengan meninggalnya Mama. Kau tahu, ia tinggal dengan Mama selama tiga puluh tiga tahun.”

Aku terpana sesaat. Dadaku ngilu. Kupeluk Kak Ira dengan hati menggigil. Bagaimana bisa kukatakan kepadanya bahwa aku dan Idan sudah sepakat untuk mengakhiri pernikahan ini secepatnya?

***

Sesampai di rumah, Idan langsung menuju ke kamarnya.

“Kau mau kumasakkan nasi goreng, Dan?”

“Nanti saja. Aku tidak lapar.”

“Kau tidak makan apa-apa dari kemarin subuh. Nanti kau sakit. Mau ya?”

Idan mengangguk dengan mata hampa. Aku jadi semakin khawatir melihatnya.

“Tunggu di sini,” ujarku lagi. “Aku tidak akan lama.”

Ketika aku baru saja mengambil telur dari lemari es, aku mendengar suara Idan di kamar mandi. Ia kutemukan membungkuk di wastafel, menangis dan muntah hampir bersamaan. Untuk sesaat kepanikan melumpuhkanku dan aku hanya bisa terpaku diambang pintu, tak pasti apa yang harus kulakukan. Insting pertamaku adalah lari keluar mencari bantuan. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Idan dalam keadaan seperti itu. Kuhampiri Idan dengan ragu.

Perlahan kuelus punggungnya dan sentuhanku agaknya sedikit menenangkannya, dan lambat laun isaknya mereda. Ini membuatku lebih yakin dengan apa yang mesti kulakukan selanjutnya. Kupijat tengkuknya dan kuseka keringat di dahinya. Tapi tiba-tiba saja ia terkulai lemas, dan kalau aku tidak segera meraihnya ke dalam pelukanku, ia pasti akan terpuruk ke lantai. Pelan-pelan kupapah ia ke kamar dan kubaringkan di ranjang. Kubuka kemejanya yang basah dan kuselimuti badannya yang menggigil.

“Maaf, Pit,” bisiknya. “Aku tidak bisa menangis di depan kakak-kakakku. Mereka….”

“Aku tahu. Tidak apa-apa,” tanganku masih gemetar saat aku mengelus rambutnya.

“Aku buatkan teh panas, nanti kau minum, ya.” Ia mengangguk dan aku beranjak meninggalkannya. Ketika aku kembali, ia kelihatan agak lebih baik.

Dihirupnya sedikit teh yang kubawa. Wajahnya tidak lagi pucat setelah itu. Ketika aku merapikan kembali selimutnya, ia memegang tanganku.

“Terima kasih.”

“Kau pernah melakukan lebih dari ini untukku.”

“Bukan untuk tehnya. Untuk tidak memberiku pernapasan buatan,” ia tersenyum nakal.

“Oh, kau!” aku ikut tersenyum, lega.

“Dan untuk menikah denganku,” lanjut Idan kemudian, ekspresinya begitu serius.

“Setidak-tidaknya sebelum meninggal, Mama bisa tenang karena mengira aku sudah beristri. ”

Aku tertegun sesaat. Suaraku goyah dan terbata saat aku bicara, “Aku yang mesti berterima kasih kepadamu.”

“Untuk apa?”

“Untuk setahun yang kau lewati denganku. Untuk kesabaranmu. Pengorbananmu.”

Idan tersenyum kecil. “Aku tidak melakukan apapun yang tidak kusukai. Ini setahun yang sangat menyenangkan untukku. Seharusnya aku yang berterima kasih.”

“Jangan memaksa,” aku mencoba bercanda. “Aku yang harus berterima kasih. Mengalahlah sedikit.”

Idan tersenyum dan mencubit hidungku. Tangannya tidak sedingin tadi dan itu melenyapkan sisa-sisa kekhawatiranku.

“Aku masih tidak mengerti kenapa kau akhirnya mau terlibat dengan ide gilaku ini,” katanya.

“Entahlah, Dan,” aku tertawa kecil. “Mungkin aku sudah sangat capai berkilah tiap kali ibuku merongrong soal perkawinan. Dan aku melihat usulmu itu sebagai jawaban yang paling jitu untuk menyelesaikan dua masalah sekaligus, keenggananku untuk menikah, karena tidak ada calon yang pas; dan keinginan ibuku yang menggebu-gebu untuk segera melihatku menikah.”

“Apa yang kau dapat setelah setahun kita menikah?” tanyanya dengan mimik lebih serius.

Aku terdiam sejenak. “Banyak,” jawabku akhir nya. “Aku belajar bahwa aku tidak menikah dengan malaikat atau monster, tapi dengan manusia, yang punya kekurangan yang harus kumaafkan dan keistimewaan yang tidak bisa kuabaikan. Aku belajar bahwa dalam pernikahan, bila kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan tidak selalu berarti kekalahan, tapi boleh jadi suatu kemenangan bersama.”

Aku ingin menambahkan bahwa pernikahan membutuhkan cinta dan kesetiaan seperti gurun memerlukan air, tapi aku tidak punya nyali untuk menyatakan semua itu.

“Kau memang selalu pintar bicara,” Idan tersenyum.

“Kau sendiri? Apa ya ng kau pelajari selama ini?”

“Hanya satu. Hidupku mungkin tidak akan pernah sebahagia ini lagi setelah kau pergi.”

Aku tertegun. “Apa maksudmu?”

Idan bangkit dan duduk mencangkung menatapku. “Tahun ini adalah saat paling bahagia dalam hidupku. Setiap aku bangun pagi dan mendengar suaramu, aku jadi berpikir aku adalah laki-laki paling bahagia di dunia ini. Dan setiap malam waktu aku pulang dan kau tersenyum menyambutku, aku merasa aku jadi manusia paling beruntung di seluruh jagad raya. Aku jadi sangat terbiasa dengan kehadiranmu bahkan mulai berharap kau akan bersamaku terus, walaupun harapan itu, aku tahu, konyol. Tapi kalau kau mencintai seseorang seperti aku mencintaimu, kau akan kehilangan akal sehat.”

Kutatap wajah Idan lekat-lekat. Ia tidak kelihatan sedang bercanda. Ia tampak sangat tenang dan serius.

“Aku masih belum mengerti,” bisikku.

“Pernikahan ini tidak pernah hanya sebuah simulasi untukku, Pit. Ini adalah pernikahan sesungguhnya untukku.”

“Apa maksudmu kau mencintaiku ?” suaraku tercekik.

“Apa yang tidak kau pahami? Aku mencintaimu,” kata-kata Idan begitu lugas, menghantamku seperti sebuah pukulan keras yang membuatku terempas.

“Aku mencintaimu sejak kau memarahiku karena nyaris melindas kelincimu, dua puluh tahun yang lalu, waktu kita masih sama-sama belasan tahun. Dan aku tidak pernah bisa berhenti mencintaimu hingga kini.”

“Kau… kau tidak pernah….”

“Kau tidak pernah memberiku kesempatan. Kau selalu sedang jatuh cinta dengan orang lain atau patah hati karena orang lain, dan kau selalu datang kepadaku menceritakan semuanya. Aku tahu aku bukan lelaki idamanmu. Aku tidak menggambar. Tidak menulis puisi. Kalau kau bilang sebuah lukisan itu bagus, aku tidak mengerti kenapa. Aku bukan jago pidato dan calon ketua OSIS yang kau gilai di SMA. Aku bukan aktivis kampus yang membuatmu mabuk kepayang waktu kuliah dulu. Aku terlalu biasa-biasa saja. Aku tahu ini sangat menyedihkan, memalukan dan aku benci kau kasihani. Tapi selama ini aku benar-benar tidak punya keberanian, belum lagi kesempatan, untuk berterus terang kepadamu.”

“Kau tidak pernah biasa-biasa saja, Dan,” ujarku lirih. “Kau istimewa dengan caramu sendiri.”

Ia mengangkat bahu. “Tidak cukup untuk kau cintai.”

Sesaat aku hanya bisa terdiam, menatap kedua mata Idan, mencari tanda-tanda kalau semua ini hanya salah satu dari sekian banyak permainannya. Tapi ia kelihatan sungguh-sungguh.

“Kenapa kau katakan semua ini kepadaku waktu kita akan berpisah seperti ini? Apa yang kau inginkan?” tanyaku datar.

Idan tersenyum kecil. Ada kepedihan dalam senyumnya, sesuatu yang tak pernah kutemukan sebelumnya. “Aku sendiri tidak tahu kenapa aku mesti mengatakan semua ini kepadamu. Aku hanya ingin kau tahu aku mencintaimu. Bukan karena aku masih berharap kau akan mencintaiku juga. Sekarang tidak ada bedanya lagi. Tapi aku ingin kau tahu kalau kau tetap memiliki cintaku, apapun yang terjadi, bahkan jika akhirnya kau benci kepadaku atau melupakanku sekalipun.”

Ia tertunduk sesaat. Ada sorot yang asing berpijar di matanya saat ia kembali menatapku. “Dan kalau kau tanya apa yang kuinginkan, aku ingin kau disini bersamaku, seumur hidupku. Aku ingin kau belajar dan akhirnya benar-benar mencintaiku, mungkin tidak akan pernah sedalam dan separah cintaku kepadamu, tapi setidaknya kau tidak lagi menganggapku hanya sekedar sahabatmu, tapi juga kekasihmu. Aku ingin mencintaimu lebih dari yang pernah kutunjukkan.”

Ia menghela napas berat. “Tapi itu semua keinginanku. Bukan kemauanmu. Kebahagiaanku, belum tentu kebahagiaanmu juga.”

Lama kami berdua saling berpandangan.

“Terima kasih, Dan,” desahku akhirnya. Kupeluk ia erat-erat, menyembunyikan air mataku di bahunya.

***

“Aku sudah bicara dengan Idan, Pram. Tapi aku terpaksa menunda proses perceraian itu. Idan baru saja kehilangan ibunya. Rasanya tidak pantas bicara soal perceraian saat ini.”

“Berapa lama?”

“Entahlah. Sebulan dua bulan mungkin.”

“Kau tahu waktu kita sangat terbatas, Ta. Aku tidak bisa menunda kepulanganku ke Jerman. Dan aku tidak tahu kapan aku bisa kembali ke sini lagi. Mungkin tidak dalam setahun atau dua tahun ke depan. Dan kita akan kehilangan waktu yang mestinya bisa kita lewati berdua.”

“Aku tahu, Pram. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Idan sekarang. Dia membutuhkan aku.”

“Aku lebih membutuhkanmu dari dia, Ta. Dan pikirkan dirimu sendiri. Apa kau tidak ingin kita bisa seterusnya bersama?”

Aku menghela napas panjang. “Entahlah, Pram, ” bisikku.

“Apa maksudmu?” suara Pram terdengar kaget.

“Aku…. Aku tidak akan bahagia kalau Idan menderita.”

“Ita! Kau tidak…. Dengar, pikir baik-baik. Menurutmu, kalau kau tersiksa hidup dengannya, ia akan bahagia?”

“Aku tidak merasa menderita menjadi istrinya.”

“Tapi kau tidak bahagia!”

“Aku bahagia, Pram. Mungkin tidak seperti saat aku bersamamu. Tapi Idan membuatku bahagia.”

“Kau tidak bisa melakukan ini, Ta. Kau hanya kasihan kepadanya. Sebentar lagi kau akan berubah pikiran dan saat itu kau akan menyesal karena membuang kesempatan ini.”

“Aku bisa belajar memaafkan diriku sendiri.”

“Ita, kau tidak mencintainya!”

“Ia mencintaiku. Itu lebih dari cukup.”

“Kau hanya bingung, Ta. Aku mengerti. Tapi apa kau lupa kalau aku sangat mencintaimu?”

“Aku tidak pernah akan lupa, Pram.”

“Lantas apa yang membuatmu berubah pikiran secepat ini?”

“Idan mengajariku tentang cinta.”

“Hanya karena itu?”

“Juga karena aku yakin, aku akan belajar mencintainya.”

“Ita….”

“Selamat tinggal, Pram. Mudah-mudahan kau akan sebahagia aku nantinya, atau mungkin lebih bahagia lagi.”

Telepon kututup sebelum air mataku luruh.

“Upit.”

Aku tersentak dan berbalik seketika. Entah sudah berapa lama Idan berdiri di belakangku. Wajahnya penuh tanda tanya dan ia menggeleng perlahan sambil duduk di lantai di sisi kursiku.

“Kenapa?” tanyanya.

Aku tak bisa menjawab. Air mataku menetes satu-satu dan dengan lembut ia menyeka pipiku dengan jarinya.

“Aku tak bisa melihatmu begini,” lanjutnya pelan. “Ini keputusan yang sangat konyol, Pit. Kau benar-benar akan membiarkan kesempatanmu berlalu sekali lagi?”

Aku mengangguk.

“Dia akan membuatmu sangat bahagia, Pit.”

Aku mengangguk.

“Kau akan menyesal.”

Aku mengangguk.

“Kau akan sedih, kecewa….”

Aku mengangguk.

“Kau tidak mencintaiku.”

Aku menggeleng.

Idan terbelalak. “Upit!” pekiknya tertahan. “Idan!”

Diambil dari: Bunga Serampai

Tak Tahu Malu

setibanya di senja hari, cahaya menerpa wajahmu yang rupawan, oh…tidak! bukan rupawan, tapi wajah teduh selepas munajat ashar. tak heran rasanya bila mendamba yang didamba, Julaikha pun ter-iris ketika Yusuf berjalan di hadapannya, atau ketika tilawahmu dimulai dan daun jatuhpun mengimbanginya, seperti Daud yang mengalahkan rayuan para pecinta.

bolehkah aku ceritakan kepadamu?
pohon zaitun tumbuh dengan sebaik-baiknya, juga delima yang merona, begitu juga buah khuldi yang diperintahkan dijauhi. tak ada salahnya bila ku kulum senyum dan sekilas memandangmu pada nikmat yang pertama. dan apakah kau tak melihat! ketika sayap-sayap burung terbang dengan perlahan, dan semut menyingkir dari pasukan Sulaiman, begitu juga aku… tak tahu malu memintamu dengan nyata.

Tangerang, 17 September 2012