Resensi Buku Jatuh; Azhar Nurun Ala

Photo0563

saya ikut terJatuh membaca buku ini.

siang tadi bukunya sudah Jatuh di rumah, sore hari bukunya tepat Jatuh di tangan saya, sesampainya di rumah. walaupun belum banyak yang saya baca, tapi saya sudah terlanjur Jatuh membaca tulisan yang berjudul JATUH:

04.05
Alarmku berbunyi

Aku bangun dengan hati yang pegal. ada bertumpuk-tumpuk rindu yang mengisi hampir seluruh ruang dalam rongga dada dan seluruhnya melekat erat di sana: pada segumpal daging maha lembut bernama hati–yang entah bagaimana caranya akhir-akhir ini punya daya tahan banting tinggi karena telah kau jatuhkan berkali-kali. setiap hari. setiap pagi bahkan sebelum aku mandi.

tapi pagi ini ada yang berbeda, nafasku diganjal oleh pegal, semacam sesak yang tak tertebak. apa yang terjadi?

: anak muda yang berbakat, lewat kata-katanya yang lembut dan perangai yang baik. sekilas yang saya baca, walaupun belum pernah bertemu secara langsung (gestur) Azhar Nurun Ala.

Iklan

EPISODE RASA

Kemarilah! Akan aku ceritakan tentang malam-malam yang melipat siang, kemudian pagi yang tak mau kalah dengan fajarnya. Bila kau lihat malam cerah berbintang, rembulan sembunyi di balik awan, angin bertiup halus seperti perawan. Hitam tak begitu kelam, tanpa kau sadar… Kau hadirkan aku setiap bagian. Lewat hembus nafas yang hangat, lewat aksaramu yang lembut, lewat tingkahmu yang menawan, dan lewat lirikmu yang jeli. Pada tiap ruas dini yang mengigil, terlena pada kantuk yang kemarin, tak pernah kita tahu bait-bait ufuk yang juga jingga, menyemai kisah yang akan nyata. Laksana bunga di musim semi yang tak bisa sembunyi.

Rindumu seperti mengepal awan, kemudian buyar. Dan aku harus tidur dengan mimpi yang sama, kemudian bangun dengan takut yang mencekam.

Berapa banyak kuntum-kuntum bunga yang hendak mekar, kemudian tunas-tunas muda yang segar. Ketika angin sepoi-sepoi berdendang, beri kabar lewat aroma jiwa yang riang. Demi yang ganjil dan yang genap dan demi malam yang kesepuluh. adakah janji yang akan menjadi saksi, ketika raut-raut merona tak karuan?

yang jauh begitu dekat, yang dekat begitu jauh. yang dekat terasa redup, yang jauh terus bersinar. yang dekat juga jauh, terus terlena, yang diam hanya bisu. yang dekat terasa hina, yang jauh terus terpanah. Bicara terkadang lepas, yang tertawa terkadang hilang. Demi Hawa yang dipertemukan di jabal rahmah.

Taukah kau, ada yang kita tidak tahu dari dunia? Ketika mata terbelalak, telinga mendengar, hati merasa, kemudian senyum memanis. Ini yang kita tidak tau, ada sebuah keajaiban yang disebut CINTA. kemudian jangan pikat hati dengan akal, dan akal dengan hati. Karena jalannya bisa berbeda menuju titik yang sama. Mari denganku bersama, ilusikan isyarat alam yang menjadi saksi id kita dalam ketidak sadaran.

Merapal namamu bagai merajut mutiara, merindumu seperti mendustakan dunia, bait-bait salah menjadi benar karena benar, ibarat kau akar dan aku tunas yang akan mekar. #kairo

Padamu yang ber-raut halus, senyum mengembang tak mengingkari, dengan ratus bintang menari, bila harap sudah pasti, jangan lewatkan isyarat Illahi… untukmu yang bermuka teduh.

Coba dengar! Denting yang selalu kita dengarkan bersama-sama, saat degup jantung tak karuan, saat kau mulai mengajakku bicara. Curi-curi pandang dari tempat duduk yang berbeda, kau cuek aku kaku, kau tersenyum aku tandatanya. Saat kita masih bisa menikmati lorong-lorong gedung, sama-sama menanti yang dinanti. Melelahkan memang, tapi kita menikmati sajian awal.

bila berjauhan saja sudah terasa dekat, apa lagi dekat?
dekatnya kau atau tidak
jauhnya aku atau tidak
ini tak akan mengubah hati

 seperti yang kau ucap:

‘hati adalah penghubung antara kamu dengan Tuhanmu dan aku dengan Tuhanku. hati juga penghubung antara aku dengan dirimu, tiada kebohongan di dalam hati.’

juga tentang isyarat alam yang selalu kita rasa bersama, ketika kita sama-sama rindu kemudian tergugur haru, lalu meluap asa. bisakah salah, bila memang wajah tak bertemu tapi hasrat bicara?

cukup mulut mengatup tanda tak setuju
kemudian rasakan aku disaat rindu

 Tangerang, 02 Mei 2011

dendang hujan

angin saja bisa membuat gemuruh di langit yang mendung
kemudian hujan turun menyambut bumi
gerimis membadai? ah tidak! ini hanya sebuah percikan air yang membuatku terasa sakit.

ketika katak-katak cinta bernyanyi
berdendang irama-irama perayu bagi para betina
ada hujan
ada gemuruh
ada katak
ada rindu

tak pernah terlintas ada kilat begitu indah
laksana kau sayat hatiku, kemudian kau temukan dirimu
hiperbola yang dibuat oleh rasa, tapi harum tetap seperti tanah
basah dan menggenang.

tak ubahnya senandung-senandung duka
tak ada bendera kuning di sana
aku
tetap sama, seperti air yang tahu tempat muara.

Tangerang, 14 April 2013

BERTEMU DENGANMU

 

Photo0319

seperti sebuah paduan yang sama
tawamu memecah sunyi
saat kita terjebak di lorong pengap
kau tetap menertawakannya
sedang aku mulai lelap di sampingmu

sayangku,
bagai seribu pintu yang kau warnai
yang melatarbelakangimu sebagai cahaya
ketika kau ucap; kita belum mulai
aku mulai melangkah, mempercepat langkah

sedang tapak yang lalu masih jelas menceritakanmu
gugupmu mendulang mimpi
alur yang ku sangsikan menjadi memoar yang hilang
dan untuk itu, kenapa kau berhak untuk dirindukan
meskipun pertemuan bukan sebuat titik temu

Tangerang, 11 April 2013

Tak Tahu Malu

setibanya di senja hari, cahaya menerpa wajahmu yang rupawan, oh…tidak! bukan rupawan, tapi wajah teduh selepas munajat ashar. tak heran rasanya bila mendamba yang didamba, Julaikha pun ter-iris ketika Yusuf berjalan di hadapannya, atau ketika tilawahmu dimulai dan daun jatuhpun mengimbanginya, seperti Daud yang mengalahkan rayuan para pecinta.

bolehkah aku ceritakan kepadamu?
pohon zaitun tumbuh dengan sebaik-baiknya, juga delima yang merona, begitu juga buah khuldi yang diperintahkan dijauhi. tak ada salahnya bila ku kulum senyum dan sekilas memandangmu pada nikmat yang pertama. dan apakah kau tak melihat! ketika sayap-sayap burung terbang dengan perlahan, dan semut menyingkir dari pasukan Sulaiman, begitu juga aku… tak tahu malu memintamu dengan nyata.

Tangerang, 17 September 2012