SURAT KE-LIMA 19 JANUARI 2015

‘apa tidurmu nyenyak malam tadi?’ Ya. sambil menahan sesak dan mual yang sangat, aku menjawab YA. masih ingatkah pertanyaan itu? pertanyaan beberapa tahun lalu, saat malam terakhir kita sepakat untuk menyudahi semuanya dan mungkin bukan jawaban yang buruk yang aku berikan. ini bukan tentangmu, ini tentang kenangan yang terulang… seakan-akan aku masih saja ceroboh dalam mengambil keputusan, seakan-akan aku tak membutuhkannya, seakan-akan aku wanita yang tegas dan keras kepala, seakan-akan aku tak punya hati, dan seakan-akan aku mempunyai satu ujung pisau yang berbeda. kemudian, aku semakin berpikir dan berhati-hati. ternyata sebagianku adalah sebagian dari yang lalu dan sekarang. jika memang bumi itu bulat, maka jangan lihat dari sudut manapun.

Iklan

Aku tak tahu

‘hai siapa kau yang dikatakan pemerintah?’ teriak mahasiswa. ‘perutmu membuncit mungkin terisi uang-uang kami si perut kerempeng,’ sekilas suara parau dari anak-anak kurang gizi. dibalik jeruji besi seorang wanita kaya terkapar dikabarkan tidak sehat. hah? kenapa mererka para tikus-tikus raksasa terserang penyakit psikologis. huuh pura-pura saja… padahal kami tahu psikologis kalian sudah sakit dari dulu! menggerogoti daging-daging ranum, mencintai tanah basah dan berkelit ‘AKU TAK TAHU’

desember 13, 2011
selamat hari anti korupsi, 09 desember 2014

SURAT TERBUKA UNTUK KAMU YANG ADA DI SANA

diprediksi; tahun ini diakhiri dengan bulan desember, berjumlah 12 bulan dalam setahun. dengan tanggal merah disetiap minggunya, 24 jam dalam sehari semalam, menjelang pagi matahari terbit, menjelang senja matahari terbenam. dan banyak kemungkinan yang terjadi, di batas kita yang mencari. begitu indah bila ketergantungan kita digadaikan dengan iman kita pada Pemilik Waktu.

sekian, terimakasih
17 Juli 2014

Surat ke-Empat, 11 April 2014

Masih Tentangmu.

Sudah lama tak menulis tentangmu atau tentang siapapun yang ada disekelilingku saat ini. Terakhir ku buat surat untukmu, menceritakan Tentangmu; dan Masih Tentangmu.

Frase yang ku tumpuk dalam ingatan tidak serta-merta menata dirinya sendiri menjadi sebuah kalimat, pragraf, kemudian menjadi kumpulan surat yang diserahkan pak pos kepadamu. Jum’at ini hujan tiba berbarengan dengan segerombolan kawanaan yang disebut air jatuh dari langit. Di tempatku, mungkin di tempatmu berbeda. Langit yang sama, bumi yang sama, Tuhan yang sama, kadang kondisi menyamar menjadi tak serupa.

Masih ingatkah waktu kau berbicara tentang etik dalam dunia fana? “bukankah kita percaya, ada tangan-tangan Tuhan yang bermain indah. seperti katamu; semua makhluk memainkan perannya dengan sangat baik. jadi, biarlah kita diam sejenak…. menunggu puncuk-puncuk bunga bermekaran. karena, kita pun ikut dalam lakon sebuah kehidupan. menyemai bersama, menuai berdua. Indah kita masih menguap, bahagia kita masih terkulum. Tak apa… karena hanya ada KITA” (250114). aku percaya! bukan padamu, tapi pada Tuhanku yang amat sangat baik.

Ku lihat ada kesenangan dari mata yang berbeda. Secepat apapun kau berlari, aku sudah ada di posisi finis, mengamatimu; berjalan pada jalanNya kah? Atau potong arah untuk tetap merasa paling diinginkan? Ucapku dalam hati. Walau kadang kita sama-sama mencium aroma rindu (*) dari tanah basah dikecupi hujan tak henti-henti. Jarak kita tidak dekat, tapi ada rindu yang mengikat (**)

Maaf, suratmu tertunda beberapa hari. Setelah membaca beberapa teori tentang corporate social responsibility, technology and privacy in the workplace and other…. ternyata lebih senang melukismu dalam ingatan dan walau kau bukan teori, tapi aku cukup paham; siapa kau, di mana kau, suka apa kau, benci apa kau. Bagiku kau angin sepoi yang menjatuhkan monyet di dahan kelapa; pernah baca kisah ini kah? Kalau belum, lain kali aku ceritakan untukmu, menghantarkanmu pada pengambilan keputusan yang benar juga baik. Oh ya… kau mungkin lebih mahir, aku lupa! Kepalaku ternyata lebih besar dari hatiku. Please jangan ditertawakan!

Walau ku tulis surat ini Masih tentangmu, ternyata alurnya tetap ditanganku. Pada sisi yang sama atau berbeda, aku tetap ada pada cerita yang sama; tentangmu dan tentangku, bukan tentang kita.

 

 

surat ketiga, 19 nopember 2013

Tentangmu.

aku mencintaimu mulai saat ini sampai waktu yang belum bisa aku tentukan. mulai dari memilih tanggal, hari, minggu, bulan, tahun, pagi, siang, sore, malam dan entah yang terjadi di almenak yang aku lihat setiap hari.

sampai saat ini, aku masih menerka-nerka ada apa, siapa, di hatimu. ruang sempitkah yang kau sediakan untukku atau ruang bergema yang membuatmu riuh memanggil namaku.

aku tak paham tentang teori ruang yang berulang kali kau jelaskan di ruang itu. dengan hanya melihat matamu yang senja, aku bisa tenggelam lebih lama di dasar hayal yang tak kau terka sedikitpun.

lain harinya, aku melihat rambutmu yang kau pangkas dengan rapih, baju bersih beraroma wangi dan senyummu yang menawan. kau tawarkan aku sebuah pertanyaan tentang masa depan.

entah kau atau alter ego. surat ini terasa manis ku tulis dari dua surat yang terasa pahit kemarin lalu.

kau harus terus membacanya! sampai nanti aku berbicara tentangku.

surat kedua, 16 nopember 2013

hari ini, untuk sekian kalinya aku melewati rumah yang aku tunjuk sebagai tempat tinggal kita nanti. selepas jalan yang kita lalu, mungkin kau pikir itu hanya canda dari bagian tawaan kita yang terlalu banyak terdengar.

padahal banyak memory yang tersusun rapih telah masuk dalam ingatan jangka panjangku (long term memory). setiap jejak sesakitan, sudah ku coba untuk menghapusnya, lebih dari aku mengucap namamu.

seandainya dulu, aku tidak mengindahkan distorsi. entahlah jadi apa kita, jika bukan aku sebagai aku dan kau bukan sebagai engkau. dan kita bukan siapa-siapa.

manusiawi bukan, jika aku berteriak sebagai manusia dan menyebutmu di luar dari itu. pada kenyataannya kita tetap sebagai manusia tak bersayap.

aku tak sempat berlama-lama memandang yang aku ingat. ketika ku lihat, seorang ibu bermuka kusam, baju lusuh, sedang berjalan kaki tak menentu.

aku bersyukur masih bersikap waras, kau juga begitu bukan?

surat pertama, 09 Nopember 2013

untuk pertama kalinya, aku coba tuliskan apa yang aku pikir, tentangmu, tentangnya, tentang mereka, tentang semua orang yang ada di sekeliling kita. kalau kau tak mau dengarkan aku, aku akan paksa kau membaca semua surat yang aku berikan padamu, dengan menghilang… kau mungkin akan mengerti.

aku menemukanmu, di sudut yang paling dalam. kau tahu otakku seakan disalahkan karena tak berfungsi dengan baik. tapi aku bilang pada mereka, ini bukan salah otakku… tapi ini tentang hati.

dicampuri ambisi mungkin, apapun itu aku tak pernah tahu teori apa yang tepat ku lakukan untuk mencairkan hatimu. operant conditioningkah atau conditioned reflex atau teori gestalt atau sesuatu yang aku tidak tahu. harusnya kau tetap memanusiakan aku seperti manusia.

aku tak pernah memproyeksi siapapun, kecuali kau. tapi itupun gagal… aku tak mendapati argumen yang berarti untuk menjatuhkan hatimu lebih dari apapun.

semua hal ku buat menghilang masuk kedalam ketidaksadaran, dan pada akhirnya kau akan menemukanku seperti anak-anak kembali, dengan beberapa fase yang ku tinggalkan hanya untuk mencarimu.