Surat ke-Empat, 11 April 2014

Masih Tentangmu.

Sudah lama tak menulis tentangmu atau tentang siapapun yang ada disekelilingku saat ini. Terakhir ku buat surat untukmu, menceritakan Tentangmu; dan Masih Tentangmu.

Frase yang ku tumpuk dalam ingatan tidak serta-merta menata dirinya sendiri menjadi sebuah kalimat, pragraf, kemudian menjadi kumpulan surat yang diserahkan pak pos kepadamu. Jum’at ini hujan tiba berbarengan dengan segerombolan kawanaan yang disebut air jatuh dari langit. Di tempatku, mungkin di tempatmu berbeda. Langit yang sama, bumi yang sama, Tuhan yang sama, kadang kondisi menyamar menjadi tak serupa.

Masih ingatkah waktu kau berbicara tentang etik dalam dunia fana? “bukankah kita percaya, ada tangan-tangan Tuhan yang bermain indah. seperti katamu; semua makhluk memainkan perannya dengan sangat baik. jadi, biarlah kita diam sejenak…. menunggu puncuk-puncuk bunga bermekaran. karena, kita pun ikut dalam lakon sebuah kehidupan. menyemai bersama, menuai berdua. Indah kita masih menguap, bahagia kita masih terkulum. Tak apa… karena hanya ada KITA” (250114). aku percaya! bukan padamu, tapi pada Tuhanku yang amat sangat baik.

Ku lihat ada kesenangan dari mata yang berbeda. Secepat apapun kau berlari, aku sudah ada di posisi finis, mengamatimu; berjalan pada jalanNya kah? Atau potong arah untuk tetap merasa paling diinginkan? Ucapku dalam hati. Walau kadang kita sama-sama mencium aroma rindu (*) dari tanah basah dikecupi hujan tak henti-henti. Jarak kita tidak dekat, tapi ada rindu yang mengikat (**)

Maaf, suratmu tertunda beberapa hari. Setelah membaca beberapa teori tentang corporate social responsibility, technology and privacy in the workplace and other…. ternyata lebih senang melukismu dalam ingatan dan walau kau bukan teori, tapi aku cukup paham; siapa kau, di mana kau, suka apa kau, benci apa kau. Bagiku kau angin sepoi yang menjatuhkan monyet di dahan kelapa; pernah baca kisah ini kah? Kalau belum, lain kali aku ceritakan untukmu, menghantarkanmu pada pengambilan keputusan yang benar juga baik. Oh ya… kau mungkin lebih mahir, aku lupa! Kepalaku ternyata lebih besar dari hatiku. Please jangan ditertawakan!

Walau ku tulis surat ini Masih tentangmu, ternyata alurnya tetap ditanganku. Pada sisi yang sama atau berbeda, aku tetap ada pada cerita yang sama; tentangmu dan tentangku, bukan tentang kita.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s