surat kedua, 16 nopember 2013

hari ini, untuk sekian kalinya aku melewati rumah yang aku tunjuk sebagai tempat tinggal kita nanti. selepas jalan yang kita lalu, mungkin kau pikir itu hanya canda dari bagian tawaan kita yang terlalu banyak terdengar.

padahal banyak memory yang tersusun rapih telah masuk dalam ingatan jangka panjangku (long term memory). setiap jejak sesakitan, sudah ku coba untuk menghapusnya, lebih dari aku mengucap namamu.

seandainya dulu, aku tidak mengindahkan distorsi. entahlah jadi apa kita, jika bukan aku sebagai aku dan kau bukan sebagai engkau. dan kita bukan siapa-siapa.

manusiawi bukan, jika aku berteriak sebagai manusia dan menyebutmu di luar dari itu. pada kenyataannya kita tetap sebagai manusia tak bersayap.

aku tak sempat berlama-lama memandang yang aku ingat. ketika ku lihat, seorang ibu bermuka kusam, baju lusuh, sedang berjalan kaki tak menentu.

aku bersyukur masih bersikap waras, kau juga begitu bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s