EPISODE RASA

Kemarilah! Akan aku ceritakan tentang malam-malam yang melipat siang, kemudian pagi yang tak mau kalah dengan fajarnya. Bila kau lihat malam cerah berbintang, rembulan sembunyi di balik awan, angin bertiup halus seperti perawan. Hitam tak begitu kelam, tanpa kau sadar… Kau hadirkan aku setiap bagian. Lewat hembus nafas yang hangat, lewat aksaramu yang lembut, lewat tingkahmu yang menawan, dan lewat lirikmu yang jeli. Pada tiap ruas dini yang mengigil, terlena pada kantuk yang kemarin, tak pernah kita tahu bait-bait ufuk yang juga jingga, menyemai kisah yang akan nyata. Laksana bunga di musim semi yang tak bisa sembunyi.

Rindumu seperti mengepal awan, kemudian buyar. Dan aku harus tidur dengan mimpi yang sama, kemudian bangun dengan takut yang mencekam.

Berapa banyak kuntum-kuntum bunga yang hendak mekar, kemudian tunas-tunas muda yang segar. Ketika angin sepoi-sepoi berdendang, beri kabar lewat aroma jiwa yang riang. Demi yang ganjil dan yang genap dan demi malam yang kesepuluh. adakah janji yang akan menjadi saksi, ketika raut-raut merona tak karuan?

yang jauh begitu dekat, yang dekat begitu jauh. yang dekat terasa redup, yang jauh terus bersinar. yang dekat juga jauh, terus terlena, yang diam hanya bisu. yang dekat terasa hina, yang jauh terus terpanah. Bicara terkadang lepas, yang tertawa terkadang hilang. Demi Hawa yang dipertemukan di jabal rahmah.

Taukah kau, ada yang kita tidak tahu dari dunia? Ketika mata terbelalak, telinga mendengar, hati merasa, kemudian senyum memanis. Ini yang kita tidak tau, ada sebuah keajaiban yang disebut CINTA. kemudian jangan pikat hati dengan akal, dan akal dengan hati. Karena jalannya bisa berbeda menuju titik yang sama. Mari denganku bersama, ilusikan isyarat alam yang menjadi saksi id kita dalam ketidak sadaran.

Merapal namamu bagai merajut mutiara, merindumu seperti mendustakan dunia, bait-bait salah menjadi benar karena benar, ibarat kau akar dan aku tunas yang akan mekar. #kairo

Padamu yang ber-raut halus, senyum mengembang tak mengingkari, dengan ratus bintang menari, bila harap sudah pasti, jangan lewatkan isyarat Illahi… untukmu yang bermuka teduh.

Coba dengar! Denting yang selalu kita dengarkan bersama-sama, saat degup jantung tak karuan, saat kau mulai mengajakku bicara. Curi-curi pandang dari tempat duduk yang berbeda, kau cuek aku kaku, kau tersenyum aku tandatanya. Saat kita masih bisa menikmati lorong-lorong gedung, sama-sama menanti yang dinanti. Melelahkan memang, tapi kita menikmati sajian awal.

bila berjauhan saja sudah terasa dekat, apa lagi dekat?
dekatnya kau atau tidak
jauhnya aku atau tidak
ini tak akan mengubah hati

 seperti yang kau ucap:

‘hati adalah penghubung antara kamu dengan Tuhanmu dan aku dengan Tuhanku. hati juga penghubung antara aku dengan dirimu, tiada kebohongan di dalam hati.’

juga tentang isyarat alam yang selalu kita rasa bersama, ketika kita sama-sama rindu kemudian tergugur haru, lalu meluap asa. bisakah salah, bila memang wajah tak bertemu tapi hasrat bicara?

cukup mulut mengatup tanda tak setuju
kemudian rasakan aku disaat rindu

 Tangerang, 02 Mei 2011

4 thoughts on “EPISODE RASA

  1. episode rasa seorang pujangga nih🙂
    puitis banget ndak kayak saya yang gak pintar merangkai kata he he he
    like this :
    hati adalah penghubung antara kamu dengan Tuhanmu dan aku dengan Tuhanku. hati juga penghubung antara aku dengan dirimu, tiada kebohongan di dalam hati.’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s