Tak Tahu Malu

setibanya di senja hari, cahaya menerpa wajahmu yang rupawan, oh…tidak! bukan rupawan, tapi wajah teduh selepas munajat ashar. tak heran rasanya bila mendamba yang didamba, Julaikha pun ter-iris ketika Yusuf berjalan di hadapannya, atau ketika tilawahmu dimulai dan daun jatuhpun mengimbanginya, seperti Daud yang mengalahkan rayuan para pecinta.

bolehkah aku ceritakan kepadamu?
pohon zaitun tumbuh dengan sebaik-baiknya, juga delima yang merona, begitu juga buah khuldi yang diperintahkan dijauhi. tak ada salahnya bila ku kulum senyum dan sekilas memandangmu pada nikmat yang pertama. dan apakah kau tak melihat! ketika sayap-sayap burung terbang dengan perlahan, dan semut menyingkir dari pasukan Sulaiman, begitu juga aku… tak tahu malu memintamu dengan nyata.

Tangerang, 17 September 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s