BAJU PUTIH (sharing)

Beberapa kali saya memakai baju putih (bukan kemeja) untuk memenuhi panggilan pekerjaan baik perusahaan maupun rumah sakit.

Oke… mari kita mulai dengan pembahasan baju putih pertama yaitu diperusahaan. Tepatnya bulan November 2010, berkas lamaran saya diterima oleh perusahan Garment, bisa dibilang taraf internasional (ekspor-infor). Ada dua orang yang berhasil terjaring untuk wawancara/mungkin memang hanya ada dua orang pelamar saya, termasuk saya. Sebenarnya tidak rumit waktu wawancara.

  1. Kita hanya diprintahkan mengisi form yang berbahasa inggris dengan jawaban inggris pula (sebelum wawancara)
  2. Wawancara dilakukan dengan berbahasa Indonesia, dengan pertanyaan-pertanyaan standar (mengapa tertarik melamar kesini? Bagaimana pekerjaan sebelumnya? Fasihkah anda dalam berbahasa inggris, karena disini kami berkomunikasi dengan bahasa inggris (bila diperlukan).

Masalahnya adalah ketika saya mengisi form yang semuanya berbahasa inggris,banyak suku kata yang tidak familiar/memang saya tidak mengetahui artinya. Juga ada beberapa perjanjian dalam form yang sedikit saya mengerti,dan saya tidak menyetujui perjanjian itu atau mungkin saya tidak tahu semua maksud dalam perjanjian itu (hehehe beginilah orang yang tidak bisa bahasa inggris). Sambil bertanya dengan teman disebelah saya ‘Mbak ini apa ya artinya?’….

Setelah selesai mengisi form, karena begitu lamanya menunggu personalia/HRD (sedang rapat dadakan dengan Bos-nya). Saya berbincang-bincang dengan orang yang disamping saya, basa-basi menanyakan nama, alamat, lulusan, dan pekerjaan yang sedang ditekuni. Taukah anda nama panggilannya sama dengan nama panggilan saya ‘Lia’, dia tidak meneruskan kuliah (mungkin hanya sampai beberapa semester saja) dengan alasan-alasan yang bejibun (banyak), yang tidak dipaparkan kepada saya, dia masih terikat kerja diperusahaan ……, begitu juga dengan saya.

Sudah selesai berbasa-basi dan menunggu begitu lama, akhirnya dipanggil juga untuk sesi wawancara. Karena saya datang terakhir maka Lia yang satunya lagilah yang diwawancara pertama, dengan pertanyaan standar (sudah saya paparkan diatas). Setelah selesai diwawancara, Lia pamit dan pulang lebih awal dari saya. Nah sekarang giliran saya untuk diwawancara,pembahasan pertama mengenai pekerjaan yang saya tekuni sakarang ‘bukankah enak menjadi seorang Guru? Kenapa hendak beralih profesi?’, saya jawab sekenanya saja (…..). ‘mengapa mengambil jurusan psikologi?’ sudah takdir mungkin (jawaban yang aneh hehehe). ‘bisa berbahasa inggris dengan fasih?’ saya hanya sedikit mengerti pembicaraan. ‘maksudnya tidak bisa sama sekali berbahasa inggris?’ saya bisa tapi hanya sedikit (lagi pembelaan diri nih hehehe). Terdengar suara ooohhh dari si HRD, sembari melihat-lihat berkas lamaran+form yang ada ditangannya. Wah saya mengerti mengapa HRD bilang ‘oh’…. Mungkin karena pengisian form saya yang acakadut (berantakan), ada yang saya jawab (mungkin salah ngisi) dan ada yang saya biarkan begitu saya saja. Hmmmm… tidak lama diwawancara dan belum selesai diwawancara, si HRD dipanggil oleh Bos. Dengan mengatakan kepada saya, ‘sebentar ya Mbak’, ya. Sebentarnya menurut dia berapa lama ya… beberapa detikkah? Menitkah? Jamkah?

Sudah lama rasanya saya menunggu, sambil berfirasat ‘sepertinya saya tak diterima kerja disini’ (mungkin faktor bahasa inggris saya yang jeleknya minta ampun). Hemmm… sembari mengingat-ngingat waktu saya kuliah, ada ujian toefle sebagai persyaratan sidang skripsi dengan jumlah minimal 450, alhamdulilah lulus,beberapa angka diatas jumlah standar yang ditentukan. Ya…. Mungkin faktor keberuntungan/mungkin memang sudah takdir/mungkin sedikit-banyaknya saya mengerti. Wah…. Belum muncul juga HRD itu, sudah 1 jam lebih saya menunggu untuk menyelesaikan wawancara.

Setelah selesai mengingat-ngingat masa kuliah, sketarisnya menyampaikan pesan kepada saya, ‘Mbak disuruh datang lagi nanti, untuk melanjutkan sesi wawancaranya’. Hahhh…. Dari tadi ke bilangnya (dalam hati), ‘oya mbak makasih’ saya. Dijalan pulang saya mengamati pakaian yang saya kenakan, ‘oh baju putih’.

Hmmm…firasat saya benar, saya tidak diterima kerja, karena saya sudah menunggu lama dan tidak ada kabar. Kemungkinan besar ‘Lia’ yang satunya lagi yang diterima.

Baju putih kedua

sekitar pertengahan tahun 2011, saya masih mengadu nasib dengan baju putih yang sama. setelah mengajukan lamaran dibeberapa sekolah (walaupun saya sudah mengajar di sekolah lain), saya terus berharap ada temapat untuk saya mendapatkan rezeki lebih baik lagi. hp berdering… ketika diangkat dikabarkan saya masuk interview di sekolah “….” dengan beberapa tahapan: wawancara, micro teaching dan psikotes. ya.. baju putih itu saya pakai ketika uji micro teaching (beberapa minggu setelah lulus wawancara), dengan persiapan yang tak matang dikabarkan saya harus membuat RPP dan materi yang akan dibawakan, wuuuiiiihhhh… tarik nafas dulu karena saya belum tau micro teaching itu seperti apa (coz dikuliah gak diajarin itu, lha saya bukan dari pendidikan ko) tapi setidaknya saya sudah punya pengalaman mengajar 10 bulan (belum cukup untuk saya menjadi pengajar yang baik, samapai sekarang saya masih terus belajar). singkat cerita antara berharap lulus dan tak lulus (coz tempat sekolah yang baru lumayan jauh), saya tetap berharap yang terbaik. hp bunyi: “dengan bu lia?” ya benar. “kami dari sekolah ‘…’ mengabarkan ibu untuk ikut psikotes yang akan diselenggarakan tanggal…… (saya lupa)”. akhirnya lulus dengan baju putih yang sama.

Ibrah (pelajaran) dan Tahadats Bil Hikmah (berbicara dengan/tentang hikmah)

  1. Tidak semua orang yang tidak kuliah/tidak bisa meneruskan kuliahnya,menjadi terputus pintu rezekinya (Allah tidak akan salah memberikan rezeki pada masing-masing hambanya). Nama panggilan kita sama, aku ‘Lia’ dan dia ‘Lia’.
  2. Jangan pernah menganggap enteng orang yang tidak kuliah/tidak meneruskan kuliah, karena siapa tahu mereka lebih pintar dibanding yang kuliah. Saya telah membuktikannya sendiri. Saya hanya punya ijazah yang bisa saya pertanggung jawabankan dengan beberapa ilmu yang masih menempel diingatan saya, yang saya tidak punya adalah keahlian didalam berbahasa inggris,juga keberuntungan belum ada dipihak saya.
  3. Kenali mereka dengan baik, human being is human being.
  4. Bersyukurlah atas semua nikmat yang telah Allah berikan kepada masing-masing hambanya. ‘Apabila kalian bersyukur atas nikmatKu,maka akan Aku tambahkan. Akan tetapi apabila kalian ingkar atas nikmatKu, maka azabKu amatlah pedih’.
  5. Jangan kau letakkan dunia dihati, tapi letakakanlah dunia ditanganmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s